PEMANFAATAN HADIS DLOIF UNTUK TARGHIB DAN TARHIB

PEMANFAATAN HADIS DLOIF UNTUK TARGHIB DAN TARHIB

  1. A. Pendahuluan

Salah satu  di antara sederetan musibah atau fitnah besar yang pernah menimpa umat Islam sejak abad pertama hijriah adalah ter­sebarnya h}adi>th-h}adi>th d}a>’if di kalangan umat. Hal itu juga menimpa para ‘ulama kecuali sederetan pakar h}adi>th  dan kriti­kus yang dikehendaki Allah seperti Imam Ahmad, Bukhary, Ibn Mu’in, Abi Hatim al-Razi, dan lain-lain. Tersebarnva hadits-hadits  semacam itu di seluruh wilayah Islam telah meninggalkan dampak negatif yang luar biasa. Di antaranya adalah terjadinya perusakan segi akidah terhadap hal-hal gaib, segi syariat, dan sebagainya.

Di antara bukti nyata betapa sangat buruk pengaruh  h}adi>th d}a>’if pada umat islam adalah tumbuhnya sikap meremehkan  terhadap hadits Rasul Allah SWT. Kalangan ‘ulama, mubaligh, dan pengajar yang kurang cermat dalam menukil periwayatan hadits juga semakin mempercepat penyebaran dampak buruk tersebut. Belum lagi bilangan hadits yang dipalsukan ternyata memang amat banyak.[1]

Usaha belajar bagi generasi sekarang untuk mengetahui dan mengenali derajat tingkatan hadits-hadits Rasul Allah SAW. sudah harus menjadi kebutuhan yang mendesak dan amat penting. Diantara manfaatnya adalah : agar kita tidak terjebak karena “ketidaktahuan” sehingga dalam forum-forum ilmiah, ceramah, menulis artikel, kita banyak mengutarakan hadits-hadits dha’if.[2]

Adapun sistematika pembahasan “Pemahaman Hadits Dha’if untuk Targhib dan Tarhib” adalah sebagai berikut;

  1. Pendahuluan dan rumusan masalah.
  2. Definisi dan kriteria h}adi>th d}a>’if
  3. macam-macam dan kategori h}adi>th d}a>’if
  4. kehujjahan h}adi>th d}a>’if
  5. kitab-kitab yang memuat h}adi>th d}a>’if.
  6. Penutup berupa kesimpulan.

  1. B. Pembahasan
    1. 1. Pengertian h}adi>th d}a>’if

h}adi>th  adalah : Sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat-sahabatnya (untuk menjelaskan dan menentukan hokum Islam)[3] sedang dhaif adalah : lemah[4]

Kata  d}a>’if menurut bahasa , berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawiy yang kuat. Sebagai lawan kata dari shahih, kata  d}a>’if , juga berarti saqim (yang sakit).[5]

Secara istilah, para ‘ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang berbeda-beda. Akan tetapi pada dasarnya mengandung maksud yang sama. Beberapa definisi, diantaranya dapat dilihat di bawah ini.

h}adi>th d}a>’if : Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits hasan, dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.[6] Sementara ada yang berpendapat bahwa Hadits Dha’if : adalah bagian dari hadits mardud. Dari segi bahasa dha’if berarti lemah. Kelemahan hadits dha’if ini karena sanad dan matan-nya tidak memenuhi criteria hadits kuat yang diterima sebagai hujjah.[7] Dalam istilah h}adi>th d}a>’if :

هو ما لم يجمع صفة الحسن بـفـقـد شـرط من شروطـه

Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberap syarat yang tidak terpenuhi.[8]

هو ما لم يجمع صفـة الصـحيح والحسن

Hadis yang tidak menghimpun sifat hadis shahih dan hasan.[9]

al-Nawawi mendefinisikannya dengan:

ما لم يو جد فيه شر و ط ا لصحة و لا شر وط ا لحس

“Hadits yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shahih dan syarat-syarat hadits hasan.”[10]

Sedang menurut Ajjaj al-Khathib  menyebutkan, bahwa h}adi>th d}a>’if ialah :

كل حد يث لم يجتمع فيه صفة ا لقبو ل

“Segala hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul.” [11]

Sifat-sifat yang maqbul dalam definisi di atas, maksudnya ialah sifat-sifat yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih dan yang hasan. Karena yang shahih dan yang hasan keduanya memenuhi sifat-sifat maqbul. Dengan demikian, definisi yang disebut kedua ini sama dengan definisi yang menyebutkan, sebagai berikut :

ا لحد يث ا لذ ي لم يجتمع فيه صفا ت الصحيح و لا صفا ت الحسن

“Hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat shahih dan hasan”[12]

Menurut Nur al-Din ‘Itr, bahwa definisi yang paling baik, ialah :

ما فقد شرطا من شرو ط الحد يث المقبول

“H}adi>th yang hilang salah satu syarat dari syarat-syarat hadits maqbul.”[13]

Pada definisi yang disebut terakhir ini disebutkan secara tegas, bahwa jika satu syarat saja dari syarat hadith maqbul (hadith shahih atau hadits hasan) tidak terpenuhi atau hilang, berarti hadits itu tidal maqbul, yang berarti mardud. Dengan kata lain, hadits itu adalah dha’if. Lebih banyak syarat yang hilang, berarti hadith itu lebih tinggi nilai kedha’if annya.

  1. Kriteria Hadits Dha’if

Dari paparan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa kriteria h}adi>th d}a>’if adalah:

  1. Sanadnya terputus, maksudnya adalah terputusnya silsilah sanad sebab gugurnya seorang perawi, baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak oleh sebagian perawi. Mulai dari awal sanad, akhirnya atau dari tengahnya baik secara jelas atau tidak. Di antara h}adi>th d}a>’if karena terputus sanadnya adalah: Pertama, H}adi>th Mu’allaq yaitu h}adi>th yang gugur perawinya, baik seorang, atau lebih pada awal sanad. Dan h}adi>th  itu tersebut dinisbatkan kepada perawi di atas yang digugurkan.[14] Kedua, H}adi>th Munqat}i’ Adalah h}adi>th yang gugur pada sanadnya seorang perawi, atau pada sanad tersebut disebutkan seseorang yang tidak dikenal namanya.[15] Ketiga, H}adi>th Mursal yaitu h}adi>th yang gugur sanadnya setelah tabi’in. Yang dimaksud gugur di sini, ialah nama sanad terakhir, yakni s}ahabat tidak disebutkan.. Al-Hakim merumuskan definisi h}adi>th mursal dengan: “H}adi>th yang disandarkan (langsung) oleh tabi’in kepada Rasu>l SAW., baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir-nya. Tabi’in tersebut, baik termasuk tabi’in kecil maupun tabi’in besar.” [16]Keempat, H}adi>th Mu’dlal Artinya h}adi>th yang gugur perawi-perawinya, dua orang atau lebih secara berturut-turut. Baik s}ahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabit al-tabi’in, maupun dua orang sebelumnya.[17] Ibn al-Madini dan para ‘ulama sesudahnya mengatakan, bahwa gugurnya h}adi>th mu’dlal itu lebih dari satu orang.[18] Ini artinya, batas jumlah yang gugur itu tidak ditentukan,berapa pun banyaknya, asal saja lebih dari satu. Kelima, H}adi>th Mudallas Artinya h}adi>th yang tiada disebut di dalam sanad atau sengaja digugurkan oleh seseorang perawi nama gurunya dengan cara memberi faham, bahwa ia mendengar sendiri h}adi>th itu dari orang yang disebut namanya itu. Perbuatan itu dinamai : tad-lis. Mudallas dibagi dua, tadlis isnad dan tadlis suyukh. Pertama, Tadlis isnad yaitu; h}adi>th yang disampaikan oleh seorang perawi dari dari orang yang semasa depannya dan ia bertemu sendiri dengan orang itu, meskipun ia tidak bisa mendengar langsung darinya. Atau dari orang yang sama dengannya, tetapi tidak pernah bertemu, dan ia menciptakan gambaran bahwa ia mendengar langsung dari orang tersebut. Tadlis (manipulasi) di sini  ialah tindakan Sufyan menggugurkan dua orang gurunya dan menyampaikan h}adi>th dengan bentuk yang menggambarkan seolah-olah ia mendengar langsung dari al-Zuhri.[19] Kedua, Tadlis Syuyukh, yaitu h}adi>th diriwayatkan dengan memberi sifat kepada perawinya dengan sifat yang lebih agung daripada kenyataan, atau memberinya nama dengan kunyah (julukan) dengan maksud menyamarkan masalahnya. Di antara salah satu contohnya: bila seseorang mengatakan:”orang yang sangat alim lagi teguh pendiriannya menceritakan kepadaku,” atau “penghapal yang sangat kuat hapalannya menceritakan kepadaku.”

 

  1. Perawinya tidak ‘adil, seperti H}adi>th Mawd}u’ : Dari segi bahasa, h}adi>th mawd}u’ berarti palsu atau h}adi>th yang dibuat-buat.  Ajjaj al-Khatib, mendefinisikan h}adi>th mawd}u’ adalah:  H}adi>th yang disandarkan kepada  Rasu>l Alla>h SAW., secara dibuat-buat dan dusta , padahal beliau tidak mengatakan, melakukan atau menetapkannya.[20] H}adi>th mawd}u’ merupakan seburuk-buruk h}adi>th d}a>’if. Siapa yang mengetahui kepalsuannya, maka ia tidak boleh meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasu>l Alla>h SAW., kecuali dengan maksud untuk menjelaskan kepalsuannya. H}adi>th Matruk Adalah h}adi>th yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh dusta dalam per h}adi>than.[21] Yang dimaksud dengan-perawi yang tertuduh dusta adalah orang yang terkenal dalam pembicaraannya sebagai pendusta, tetapi belum terbuktikan. Adapun perawi yang tertuduh dusta disebut dengan matruk al- h}adi>th (orang yang ditinggalkan h}adi>thnya).H}adi>th Munkar secara bahasa berarti, h}adi>th yang  diingkari atau h}adi>th  yang tidak dikenal. Sedangkan batasan secara istilah yang tepat adalah h}adi>th  yang diriwayatkan oleh perawi yang d}a>’if yang menyalahi atau berlawanan dengan perawi yang thiqah [22].Lawan h}adi>th munkar adalah h}adi>th ma’ruf. Menurut Abu> Hatim, h}adi>th di atas munkar. Sebab Hubayib bin Habib termasuk perawi yang waham dan matruk. Tambahan ia meriwayatkan h}adi>th  tersebut secara marfu’, padahal perawi-perawi yang thiqah meriwayatkannya secara mawqu>f.

 

  1. Perawinya tidak d}a>bit. Misalnya : Pertama, H}adi>th Maqlub adalah ha}di>th yang terbalik lafaznya pada matan, nama seseorang atau nasabnya dalam sanad. Dengan demikian perawi mendahulukan apa yang seharusnya diakhirkan, mengakhirkan apa yang sebenarnya didahulukan. Dan pembalikan itu bisa terjadi pada matan ataupun pada sanad.[23]Kedua, H}adi>th Mudraj dari segi bahasa berarti h}adi>th yang dimasuki sisipan. Sedang dari segi istilah  berarti h}adi>th  yang di masuki sisipan yang sebenarnya bukan bagian h}adi>th  itu. Sisipan itu bisa pada sanad, bisa pada matan, dan bisa pada keduanya.[24] Ternyata setelah diselidiki dengan jalan membandingkannya dengan riwayat lain, kalimat yang terakhir adalah kalimat Ibn Mas’ud sendiri.[25] Ketiga, H}adi>th Mushahhaf adalah : H}adi>th yang terjadi karena perubahan kalimat  baik secara lafzi atau maknawi. Keempat, H}adi>th Muharraf adalah : h}adi>th yang menyalahi h}adi>th riwayat orang lain. Terjadi karena pcrubahan shakal kata dengan masih tetap bentuk tulisannya.[26] Kelima, H}adi>th Mukhtalit adalah h}adi>th yang perawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia. Yang dimaksud dengan buruk hafalannya ialah jika salahnya lebih banyak daripada benarnya dan hafalannya tidak lebih banyak dari lupanya. H}adi>th ini juga termasuk shadh dan tidak dapat dipakai hujjah. Keenam, H}adi>th Mud}t}arrab adalah h}adi>th yang diriwayatkan dengan jalan yang berbeda-beda, yang sama kuatnya.[27] Dengan demikian, berarti bahwa h}adi>th mud}t}arrab adalah sebuah h}adi>th yang diriwayatkan oleh seorang perawi dengan beberapa jalan yang berbeda, yang tidak mungkin dikumpulkan atau ditarjihkan. Id}t}arrab adakalanya terjadi pada sanad dan adakalanya terjadi pada matan.

Ketujuh, H}adi>th Mubham, Majhul dan Mastur. H}adi>th mubham artinya, h}adi>th yang di dalam matan atau sanad terdapat seorang perawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan. Keibhaman perawi h}adi>th tersebut dapat terjadi, karena tidak disebutkan namanya atau disebutkan namanya, tetapi tidak dijelaskan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan nama itu, sebab tidak mustahil bahwa nama itu dimiliki beberapa orang.[28]

7.1. H}adi>th mubham itu ada yang terdapat pada matan, dan ada  yang terdapat pada sanad. Menurut penyelidikan Al-Suyuti bahwa orang laki-laki yang bertanya kepada Rasu>l Alla>h SAW. ialah Abu>> Dzarr r.a.[29]

Dalam h}adi>th tersebut Hajjaj tidak menerangkan nama perawi yang memberikan h}adi>th kepadanya. Oleh karena itu sulit sekali untuk menyelidiki identitasnya.[30]

7.2. H}adi>th Majhul adalah h}adi>th yang diriwayatkan seorang perawi yang jelas identitasnya, namun belum teruji keahliannya, dan tidak ada perawi thiqah yang meriwayatkannya.

7.3. H}adi>th Mastur adalah h}adi>th yang diriwayatkan seorang perawi yang terkenal keadilan dan d}a>bitnya, tetapi belum mendapat dukungan atau pengakuan mayoritas masyarakat.[31]

d. D}a’>if dari segi Shadh. H}adi>th d}a’>if karena mengandung shadh. Dari segi bahasa shadh berarti h}adi>th yang ganjil. Sedangkan batasan h}adi>th shadh adalah h}adi>th yang diriwayatkan oleh perawi yang dipercaya, tetapi h}adi>thnya itu berlainan dengan sejumlah perawi yang juga  dipercaya. H}adi>th tersebut  mengandung keganjilan dibandingkan dengan h}adi>th-h}adi>th lain yang lebih kuat. Keganjilan itu bisa pada matan atau sanad atau pada keduanya.

Selain h}adi>th shadh ada juga yang dikenal dengan h}adi>th mahfuz} , yaitu h}adi>th yang diriwayatkan orang yang lebih thiqah yang menyalahi riwayat orang yang thiqah.

 

H}adi>th al-Turmudhy, yang bersanad Ibn ‘Uyainah, ‘Amr bin Di>na>r, ‘Ausajah dan Ibn ‘Abbas r.a adalah h}adi>th mahfuz}. Sebab h}adi>th tersebut, di samping mempunyai perawi-perawi yang terdiri dari orang-orang thiqah, juga mempunyai mutabi’ yaitu Ibn Juraij dan lainnya.

h}adi>th al-As}hab al-Sunan, yang bersandar Hammad bin Zayd, ‘Amr bin Di>na>r dan ‘Ausajah, adalah h}adi>th mursal; sebab ‘Ausajah meriwayatkan h}adi>th tersebut tanpa melalui s}ahabat Ibn ‘Abbas r.a. padahal dia adalah seorang tabi’iy. Hammad bin Zayd itu termasuk perawi yang thiqah, karenanya ia tergolong perawi yang diterima (maqbul) periwayatannya. Akan tetapi karena periwayatan Hammad bin Zayd itu berlawanan dengan periwayatan Ibn ‘Uyainah yang lebih rajih, karena sanadnya muttashil dan ada mutabi’nya. Maka h}adi>th al-Turmudhy yang melalui sanad Ibn ‘Uyainah-lah yang rajih dan disebut dengan h}adi>th mahfuz}, sedang h}adi>th al-Ashab al-Sunan yang bersanad Hammad bin Zayd, adalah marjuh dan disebut dengan h}adi>th shadh.[32]

H}adi>th Abu> Dau>d, yang bersanad Abu> al-Wahid bin Ziyad, al-A’masy, Abu> S}alih dan Abu>> Hurayrah r.a., yang diriwayatkan secara marfu’ itu, adalah h}adi>th shadh pada matan. Hal itu dapat diketahui setelah meninjau h}adi>th Bukhary yang bersanad ‘Abd Alla>h bin Yazid, Sa’i>d bin Abi> Ayyub, Abu> al Aswad, ‘Urwah bin Zubair dan ‘A>ishah r.a. , dan riwayat perawi-perawi lain yang lebih thiqah.[33]

Dengan memperhatikan ta’rif h}adi>th munkar dan ma’ruf di satu pihak, dan h}adi>th shadh dan mahfuz} di pihak lain, maka dapat ditarik perbedaan-perbedaan sebagai berikut:

1. Bahwa h}adi>th shadh diriwayatkan oleh perawi yang maqbul, tetapi menyalahi perawi lain yang lebih maqbul. Sedang h}adi>th munkar diriwayatkan oleh perawi yang ghairu-maqbul, menyalahi perawi yang maqbul.

2. H}adi>th shadh dan munkar sama-sama h}adi>th marjuh, sedang h}adi>th ma’ruf dan mahfuz}, kedua-duanya adalah h}adi>th yang rajih.

3. Hukum h}adi>th shadh adalah mardu>d. Hukum h}adi>th mahfuz} adalah maqbul.[34]

e. D}a>’if dari segi Illat. H}adi>th d}a’>if karena mengandung illat adalah h}adi>th mu’allal. Yaitu h}adi>th yang terungkap mengandung cacat yang menodai kes}ahihannya, meskipun sepintas tampak bebas dari cacat. Illat tersebut kadang ada pada sanad, kadang ada pada matan saja dan kadang ada pada sanad dan matan sekaligus.[35]

‘Illat h}adi>th ini terletak pada `Amr bin Di>na>r, semestinya bukan dia yang meriwayatkan, melainkan ‘Abd Alla>h bin Di>na>r. Hal ini hanya ber’illat pada sanadnya, tetapi matannya tetap s}ahih.[36]

Yang dimaksudkan dengan ‘Abd Alla>h ini adalah Abu>> Bakar bin Abi> Dau>d  al-Sijistaniy. Perawi hanya menyebut gurunya atau memberikan nisbat.[37]

Menurut Ibn S}alah, al-Khatib al-Baghdadi menggemari jenis ini dalam karya-karyanya. Di antaranya bahwa al-Khatib meriwayatkan dalam kitabnya bersumber dari Abu>> Qasim al-Azhari, dari Ubayd Alla>h bin Abi al-Fath al-Fasi dan Ubayd Alla>h bin Ahmad bin ‘Uthman al-S}airafi, sedangkan semuanya adalah orang yang sama. Al-Khatib juga meriwayatkan dari al-H}asan bin Muhammad al-Khilal, dari al-H}asan bin Abi> T}alib dan dari Abu> Muhammad al-Khilal, yang semua nama itu orangnya satu.[38]

Disamping kedua macam tadlis di atas, sebagian ‘ulama membagi tadlis dalam beberapa jenis, diantaranya apa yang dinamakan tadlis  at}af (merangkai dengan kata “dan”). Seperti kalau seorang perawi berkata:”Fulan dan Fulan menceritakan kepadaku”, padahal sebenarnya ia mendengar dari orang yang kedua. ada juga tadlis sukut, misanya perawi mengatakan:”Aku mendengar” atau “Telah bercerita kepadaku”, kemudian dia diam, baru setelah beberapa saat ia melanjutkan: “al-A’masi……”umpamanya. Hal tersebut mengesankan seolah-olah ia mendengar dari al-A’masi, padahal sebenarnya ia tidak mungkin mendengar langsung dari al-A’masi. Jenis yang lain ialah tadlis taswiyah. Yaitu periwayatan oleh seseorang dengan menggugurkan perawi yang bukan gurunya, karena dianggap lemah atau muda usianya, sehingga h}adi>th tersebut hanya diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya saja, agar dapat diterima dan ditetapkan sebagai h}adi>th s}ahih . Ini jenis tadlis yang paling buruk, karena mengandung penipuan yang keterlaluan.[39]

  1. C. Pemanfaatan h}adi>th d}a>’if untuk targhib dan tarhib

 

  1. 1. Dari segi sanad h}adi>th.

Pada sisi sanad h}adi>th d}a>’if bisa dijadikan hujjah apabila tingkat ketidak-d}abi>tan perawi  hanya sedikit, (hujjah) alasan[40] yang harus dikemukakan dalam rangka menetapkan atau mempertahankan pandangan yang diajukan[41]

Adapun pendapat para ahli sebagai berikut :

a. Ibn Rajab dalam Syarh ‘Illal al-Turmudzy (ditahkikkan oleh Nur al-Di>n ‘Itr). Beliau mengatakan: ”Dalam hal tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab, boleh saja menerima periwayatan dari orang-orang yang kurang kuat hafalannya, tetapi bukan dari mereka yang yang biasa dituduh sebagai pembohong. Sedangkan periwayatan dari orang-orang yang dicurigai atau diragukan kebenaran ucapannya, seharusnya dibuang saja. Begitulah yang dikatakan oleh Ibn Abi> Ha>tim dan selainnya”.[42]

b. Kemudian Imam al-Thauri menambahkan, bahwa yang dibolehkan oleh mereka hanyalah periwayatan dari sebagian perawi yang hafalannya agak lemah atau kurang cermat, meski mereka tidak termasuk sebagai imam yang ahli ilmu, dan mengetahui segala yang dikurangkan ataupun yang ditambahkan. Dan mereka ini orang-orang yang tak diragukan kejujuran dan kebenaran ucapannya. Keraguan yang ada hanya sekitar kuatnya hafalan mereka, kecermatan dan ketelitian mereka.[43]

c. al-Ha>fiz Ibn Hajar Asqalani termasuk ulama ahli h}adi>th lainnya  menetapkan tiga syarat untuk dapat diterimanya periwayatan yang lemah dalam h}adi>th tarhib dan targhib . Pertama, kelemahan itu tidak keterlaluan. karenanya harus ditolak periwayatan tunggal dari orang yang memang dikenal pembohong atau hafalannya tidak akurat. Kedua, makna h}adi>th itu masih dapat dalam tema dasar umum yang diakui. Ketiga, dalam penerapannya, hendaknya tidak dipercayai sebagai h}adi>th yang tak diragukan asalnya dari Nabi SAW (bersikap ihtiya>t}).

Akan tetapi jika sanad h}adi>th d}a>’if tidak bisa dijadikan hujjah apabila tingkat ketidak-d}abitan perawi banyak. Hal ini sebagaimana keberadaan h}adi>th mawd}u’, matruk, munkar, maqlub, mudraj, mushahhaf dan yang lainnya, yang dikategorikan d}a>’if dari segi keadilan dan ked}abi>tan perawi.

2. Dari segi matan h}adi>th.

Dari segi matan h}adi>th, bisa dijadikan hujjah apabila matan h}adi>th berupa tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.    Sedang masalah hukum-hukum shari>’ah, tidak boleh.

Pendapat para imam-imam seperti Ahmad ibn Hambal, ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi>, ‘Abd Alla>h ibn al-Mubaraq yang mengatakan: “Jika kami meriwayatkan h}adi>th tentang halal, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanad-sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa, kami permudah sanadnya dan kami perlunak rawi-rawinya”.[44]

Akan tetapi ada yang berpendapat tidak bisa dijadikan hujjah, meski matan h}adi>th berupa tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab. Hal ini jika merujuk pendapat Imam Muslim dalam muqadimmah kitab al-S}ahih-nya, bahwa h}adi>th-h}adi>th  tarhib wa targhib sekalipun,  hendaknya  tidak   diriwayatkan  kecuali  yang diterima  dari  mereka  riwayatnya dalam  hadith-hadith  hukum.  Demikian  juga  pendapat mahzab Bukhary, Yahya> ibn Ma’in, kemudian para ulama yang datang kemudian seperti Ibn Hazm dari mazhab Za>hiri, al-Qa>dhi ibn al-‘Arabi> dari mazhab Mali>ki dan Abu> Sha>mah dari mazhab Shafi>’i.[45] Kemudian tokoh-tokoh masa kini, seperti al-Shaih Ahmad Muhammad Sha>kir dan Muhammad Nashir al-Di>n al-Albani.

 

 

 

 

 

 

 

  1. D. PENUTUP / KESIMPULAN

 

Dari Pembahasan-pembahasan makalah ini maka akhirnya dapat penulis simpulkan sebagai berikut:

  1. H}adi>th d}a>’if adalah  h}adi>th yang tidak memenuhi syarat-syarat h}adi>th maqbul, ( yang di dalamnya tidak terdapat sifat-sifat s}ahih dan h}asan).
  2. Kriteria h}adi>th d}a>’if yaitu: a) sanad terputus; b) perawi tidak ‘adil; c) perawi tidak d}a>bit; d) mengandung shadh; dan e) mengandung Illat.
  3. Katogeri dan macam-macam h}adi>th d}a>’if meliputi;
  1. Sanad yang terputus; h}adi>th mu’allaq, munqat}i’, mursal, mu’dlal, dan mudallas.
    1. Perawi yang tidak ‘adil;  h}adi>th mawd}u’, matruk,dan  munkar,
    2. Perawi yang tidak d}a>bit;   mudraj, maqlub, mud}t}arrab, muharraf, mushahhaf, mubham, majhul, mastur, mahfuz}, dan mukhtalit.
    3. Mengandung  shadh; h}adi>th shadh.
    4. Mengandung Illat; h}adi>th mu’allal.
  1. Pemanfaatan h}adi>th d}a>’if bisa dilihat dari segi sanad h}adi>th, yaitu bolehnya dijadikan hujjah dari perawi yang kurang d}abi>t dalam h}adi>th berisi tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab. Sedangkan h}adi>th mawd}u’, matruk, munkar, maqlub,mudraj,mushahaf yang tingkat ketidakd}a>bitannya banyak tidak boleh dijadikan hujjah. Adapun dari segi matan h}adi>th ada dua pendapat; pertama ,boleh dijadikan hujjah untuk h}adi>th berisi tarhib dan targhib, zuhud dan adab. Kedua, tidak boleh dijadikan hujjah sekalipun  h}adi>thnya berisi tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.

DAFTAR PUSTAKA

 

–            Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Jakarata : Bumi Aksara, 2010.

–            Ahmad, Muhammad. Ulumul H}adi>th. Bandung:Pustaka Setia, 2004.

–            Ajjaj, Muhammad al-Khathib. Ushu>l al-H}adi>th;’Ulu>muh wa Musthalahuh .Beirut: Dar al-Fikr, 1981.

–            Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Jakarta  :  PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 1997.

–            Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Jakarta  :  Balai Pustaka, 1995.

–            Al-Hakim, Abu ‘Abd Alla>h Muhammad bin ‘Abd Alla>h al-Naysaburi. Kita>b Ma’rifah‘Ulu>m al-H}adi>th. Kairo: Maktabah al-Matnabi, tt.

–            Hazemi, Izzuddin. dkk, Hadits-hadits Shohih tentang anjuran dan janji pahala, Ancaman dan Dosa, Jakarta, : Pustaka Sahifa, 2007.

–            Al-Sabbag, Muhammad. Al-H}adi>th al-Nabawi> ; Mushthalahuh Balagatuh,’Ulu>muh, Kutubuh. Mansyurat al-Maktab al-Islami, 1392H/1972M.

–            Al-S}alih, Subhi. ‘Ulu>m al- H}adi>th wa Musthalahuhu. terj.Tim Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002.

–            Al-Tahhan, Mahmud. Tasyir Mustalah al-H}adi>th. Riyadl: Maktabah, al-Ma’arif, 1987.

–            Ishaq Tholani, Moh., “ Hadits Dhaif dan Problematikanya” dalam http:// riuisme, wordpress.com. (14 Juni 2008)

–            ‘Itr, Nur al-Di>n. Manha>j an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>th . Beirut: Dar al-Fikr, 1979.

–            Rahman, Fathur. Ikhtishar Mushthalah al-H}adi>th. Bandung: Al-Ma’arif, 1991.

–            Ranuwijaya, Utang. Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996.

–            Qardhawi, Yusuf. Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah. terj. Ali Baghir Bandung: Karisma,1994.

 


[1] Moh. Ishaq Tholani, “ Hadits Dhaif dan Problematikanya” dalam http:// riuisme, wordpress.com. (14 Juni 2008)

[2] Ibid., 2

[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  Balai Pustaka, 1995),333

[4] Ibid., 205

[5] Ishaq, 2

[6] Izzuddin Hazemi, dkk, Hadits-hadits Shohih tentang anjuran dan janji pahala, Ancaman dan Dosa, (Jakarta, : Pustaka Sahifa, 2007), 9.

[7] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, ( Jakarata : Bumi Aksara, 2010), 163

[8] Ibid, 164

[9] Ibid, 164

[10] Moh. Ishaq Tholani, “ Hadits Dhaif dan Problematikanya”, 2

[11] AjajIbid, 3

[12] Ibid, 3

[13] Nur al-Din ‘Itr, Manha>j an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>th (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), 286.

[14] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th wa Musthalahuhu. terj.Tim Pustaka Firdaus(Jakarta: Pustaka Firdaus,2002), 208.

[15] Muhammad al-Sabbag, Al-H}adi>th al-Nabawi>, 175.

[16] al-Hakim, Abu ‘Abd Alla>h Muhammad bin ‘Abd Alla>h al-Naysaburi, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m al-H}adi>th

(Kairo: Maktabah al-Matnabi, tt), 25.

 

[17] Mahmud al-Tahhan, Tasyir Mustalah al-H}adi>th , 75.

[18] al-Hakim, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m , 36.

[19] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 163.

[20] Utang Ranuwijaya, Ilmu H}adi>th, 188.

[21] Lihat al-Taysir, 94.

[22] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 190.

[23] Ibid, 180.

[24] Muhammad Ahmad, Ulumul H}adi>th , 157.

[25] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 162.

[26] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 373.

[27] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 112.

[28] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 169.

[29] Ibid, 170.

[30] Ibid., 196.

[31] Ibid., 197.

[32] Ibid., 174.

[33] Ibid., 175.

[34] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 117-119.

[35] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 309.

[36] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 188.

[37] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 308.

[38] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 164.

[39] Ibid., 165.

[40] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  Balai Pustaka, 1995), 259

[41] Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 1997),  227

 

[42] Yusuf Qardhawi, Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah, terj. Ali Baghir (Bandung: Karisma,1994), 70.

[43] Ibid., 71.

[44] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 200.

[45] Yusuf Qardhawi, Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah, 72.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s