PEMANFAATAN HADIS DLOIF UNTUK TARGHIB DAN TARHIB

PEMANFAATAN HADIS DLOIF UNTUK TARGHIB DAN TARHIB

  1. A. Pendahuluan

Salah satu  di antara sederetan musibah atau fitnah besar yang pernah menimpa umat Islam sejak abad pertama hijriah adalah ter­sebarnya h}adi>th-h}adi>th d}a>’if di kalangan umat. Hal itu juga menimpa para ‘ulama kecuali sederetan pakar h}adi>th  dan kriti­kus yang dikehendaki Allah seperti Imam Ahmad, Bukhary, Ibn Mu’in, Abi Hatim al-Razi, dan lain-lain. Tersebarnva hadits-hadits  semacam itu di seluruh wilayah Islam telah meninggalkan dampak negatif yang luar biasa. Di antaranya adalah terjadinya perusakan segi akidah terhadap hal-hal gaib, segi syariat, dan sebagainya.

Di antara bukti nyata betapa sangat buruk pengaruh  h}adi>th d}a>’if pada umat islam adalah tumbuhnya sikap meremehkan  terhadap hadits Rasul Allah SWT. Kalangan ‘ulama, mubaligh, dan pengajar yang kurang cermat dalam menukil periwayatan hadits juga semakin mempercepat penyebaran dampak buruk tersebut. Belum lagi bilangan hadits yang dipalsukan ternyata memang amat banyak.[1]

Usaha belajar bagi generasi sekarang untuk mengetahui dan mengenali derajat tingkatan hadits-hadits Rasul Allah SAW. sudah harus menjadi kebutuhan yang mendesak dan amat penting. Diantara manfaatnya adalah : agar kita tidak terjebak karena “ketidaktahuan” sehingga dalam forum-forum ilmiah, ceramah, menulis artikel, kita banyak mengutarakan hadits-hadits dha’if.[2]

Adapun sistematika pembahasan “Pemahaman Hadits Dha’if untuk Targhib dan Tarhib” adalah sebagai berikut;

  1. Pendahuluan dan rumusan masalah.
  2. Definisi dan kriteria h}adi>th d}a>’if
  3. macam-macam dan kategori h}adi>th d}a>’if
  4. kehujjahan h}adi>th d}a>’if
  5. kitab-kitab yang memuat h}adi>th d}a>’if.
  6. Penutup berupa kesimpulan.

  1. B. Pembahasan
    1. 1. Pengertian h}adi>th d}a>’if

h}adi>th  adalah : Sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat-sahabatnya (untuk menjelaskan dan menentukan hokum Islam)[3] sedang dhaif adalah : lemah[4]

Kata  d}a>’if menurut bahasa , berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qawiy yang kuat. Sebagai lawan kata dari shahih, kata  d}a>’if , juga berarti saqim (yang sakit).[5]

Secara istilah, para ‘ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang berbeda-beda. Akan tetapi pada dasarnya mengandung maksud yang sama. Beberapa definisi, diantaranya dapat dilihat di bawah ini.

h}adi>th d}a>’if : Hadits yang tidak memenuhi syarat hadits hasan, dengan hilangnya salah satu syarat-syaratnya.[6] Sementara ada yang berpendapat bahwa Hadits Dha’if : adalah bagian dari hadits mardud. Dari segi bahasa dha’if berarti lemah. Kelemahan hadits dha’if ini karena sanad dan matan-nya tidak memenuhi criteria hadits kuat yang diterima sebagai hujjah.[7] Dalam istilah h}adi>th d}a>’if :

هو ما لم يجمع صفة الحسن بـفـقـد شـرط من شروطـه

Adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberap syarat yang tidak terpenuhi.[8]

هو ما لم يجمع صفـة الصـحيح والحسن

Hadis yang tidak menghimpun sifat hadis shahih dan hasan.[9]

al-Nawawi mendefinisikannya dengan:

ما لم يو جد فيه شر و ط ا لصحة و لا شر وط ا لحس

“Hadits yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shahih dan syarat-syarat hadits hasan.”[10]

Sedang menurut Ajjaj al-Khathib  menyebutkan, bahwa h}adi>th d}a>’if ialah :

كل حد يث لم يجتمع فيه صفة ا لقبو ل

“Segala hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul.” [11]

Sifat-sifat yang maqbul dalam definisi di atas, maksudnya ialah sifat-sifat yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih dan yang hasan. Karena yang shahih dan yang hasan keduanya memenuhi sifat-sifat maqbul. Dengan demikian, definisi yang disebut kedua ini sama dengan definisi yang menyebutkan, sebagai berikut :

ا لحد يث ا لذ ي لم يجتمع فيه صفا ت الصحيح و لا صفا ت الحسن

“Hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat shahih dan hasan”[12]

Menurut Nur al-Din ‘Itr, bahwa definisi yang paling baik, ialah :

ما فقد شرطا من شرو ط الحد يث المقبول

“H}adi>th yang hilang salah satu syarat dari syarat-syarat hadits maqbul.”[13]

Pada definisi yang disebut terakhir ini disebutkan secara tegas, bahwa jika satu syarat saja dari syarat hadith maqbul (hadith shahih atau hadits hasan) tidak terpenuhi atau hilang, berarti hadits itu tidal maqbul, yang berarti mardud. Dengan kata lain, hadits itu adalah dha’if. Lebih banyak syarat yang hilang, berarti hadith itu lebih tinggi nilai kedha’if annya.

  1. Kriteria Hadits Dha’if

Dari paparan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa kriteria h}adi>th d}a>’if adalah:

  1. Sanadnya terputus, maksudnya adalah terputusnya silsilah sanad sebab gugurnya seorang perawi, baik yang dilakukan secara sengaja atau tidak oleh sebagian perawi. Mulai dari awal sanad, akhirnya atau dari tengahnya baik secara jelas atau tidak. Di antara h}adi>th d}a>’if karena terputus sanadnya adalah: Pertama, H}adi>th Mu’allaq yaitu h}adi>th yang gugur perawinya, baik seorang, atau lebih pada awal sanad. Dan h}adi>th  itu tersebut dinisbatkan kepada perawi di atas yang digugurkan.[14] Kedua, H}adi>th Munqat}i’ Adalah h}adi>th yang gugur pada sanadnya seorang perawi, atau pada sanad tersebut disebutkan seseorang yang tidak dikenal namanya.[15] Ketiga, H}adi>th Mursal yaitu h}adi>th yang gugur sanadnya setelah tabi’in. Yang dimaksud gugur di sini, ialah nama sanad terakhir, yakni s}ahabat tidak disebutkan.. Al-Hakim merumuskan definisi h}adi>th mursal dengan: “H}adi>th yang disandarkan (langsung) oleh tabi’in kepada Rasu>l SAW., baik perkataan, perbuatan, maupun taqrir-nya. Tabi’in tersebut, baik termasuk tabi’in kecil maupun tabi’in besar.” [16]Keempat, H}adi>th Mu’dlal Artinya h}adi>th yang gugur perawi-perawinya, dua orang atau lebih secara berturut-turut. Baik s}ahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabit al-tabi’in, maupun dua orang sebelumnya.[17] Ibn al-Madini dan para ‘ulama sesudahnya mengatakan, bahwa gugurnya h}adi>th mu’dlal itu lebih dari satu orang.[18] Ini artinya, batas jumlah yang gugur itu tidak ditentukan,berapa pun banyaknya, asal saja lebih dari satu. Kelima, H}adi>th Mudallas Artinya h}adi>th yang tiada disebut di dalam sanad atau sengaja digugurkan oleh seseorang perawi nama gurunya dengan cara memberi faham, bahwa ia mendengar sendiri h}adi>th itu dari orang yang disebut namanya itu. Perbuatan itu dinamai : tad-lis. Mudallas dibagi dua, tadlis isnad dan tadlis suyukh. Pertama, Tadlis isnad yaitu; h}adi>th yang disampaikan oleh seorang perawi dari dari orang yang semasa depannya dan ia bertemu sendiri dengan orang itu, meskipun ia tidak bisa mendengar langsung darinya. Atau dari orang yang sama dengannya, tetapi tidak pernah bertemu, dan ia menciptakan gambaran bahwa ia mendengar langsung dari orang tersebut. Tadlis (manipulasi) di sini  ialah tindakan Sufyan menggugurkan dua orang gurunya dan menyampaikan h}adi>th dengan bentuk yang menggambarkan seolah-olah ia mendengar langsung dari al-Zuhri.[19] Kedua, Tadlis Syuyukh, yaitu h}adi>th diriwayatkan dengan memberi sifat kepada perawinya dengan sifat yang lebih agung daripada kenyataan, atau memberinya nama dengan kunyah (julukan) dengan maksud menyamarkan masalahnya. Di antara salah satu contohnya: bila seseorang mengatakan:”orang yang sangat alim lagi teguh pendiriannya menceritakan kepadaku,” atau “penghapal yang sangat kuat hapalannya menceritakan kepadaku.”

 

  1. Perawinya tidak ‘adil, seperti H}adi>th Mawd}u’ : Dari segi bahasa, h}adi>th mawd}u’ berarti palsu atau h}adi>th yang dibuat-buat.  Ajjaj al-Khatib, mendefinisikan h}adi>th mawd}u’ adalah:  H}adi>th yang disandarkan kepada  Rasu>l Alla>h SAW., secara dibuat-buat dan dusta , padahal beliau tidak mengatakan, melakukan atau menetapkannya.[20] H}adi>th mawd}u’ merupakan seburuk-buruk h}adi>th d}a>’if. Siapa yang mengetahui kepalsuannya, maka ia tidak boleh meriwayatkannya dengan menyandarkan kepada Rasu>l Alla>h SAW., kecuali dengan maksud untuk menjelaskan kepalsuannya. H}adi>th Matruk Adalah h}adi>th yang diriwayatkan oleh orang yang tertuduh dusta dalam per h}adi>than.[21] Yang dimaksud dengan-perawi yang tertuduh dusta adalah orang yang terkenal dalam pembicaraannya sebagai pendusta, tetapi belum terbuktikan. Adapun perawi yang tertuduh dusta disebut dengan matruk al- h}adi>th (orang yang ditinggalkan h}adi>thnya).H}adi>th Munkar secara bahasa berarti, h}adi>th yang  diingkari atau h}adi>th  yang tidak dikenal. Sedangkan batasan secara istilah yang tepat adalah h}adi>th  yang diriwayatkan oleh perawi yang d}a>’if yang menyalahi atau berlawanan dengan perawi yang thiqah [22].Lawan h}adi>th munkar adalah h}adi>th ma’ruf. Menurut Abu> Hatim, h}adi>th di atas munkar. Sebab Hubayib bin Habib termasuk perawi yang waham dan matruk. Tambahan ia meriwayatkan h}adi>th  tersebut secara marfu’, padahal perawi-perawi yang thiqah meriwayatkannya secara mawqu>f.

 

  1. Perawinya tidak d}a>bit. Misalnya : Pertama, H}adi>th Maqlub adalah ha}di>th yang terbalik lafaznya pada matan, nama seseorang atau nasabnya dalam sanad. Dengan demikian perawi mendahulukan apa yang seharusnya diakhirkan, mengakhirkan apa yang sebenarnya didahulukan. Dan pembalikan itu bisa terjadi pada matan ataupun pada sanad.[23]Kedua, H}adi>th Mudraj dari segi bahasa berarti h}adi>th yang dimasuki sisipan. Sedang dari segi istilah  berarti h}adi>th  yang di masuki sisipan yang sebenarnya bukan bagian h}adi>th  itu. Sisipan itu bisa pada sanad, bisa pada matan, dan bisa pada keduanya.[24] Ternyata setelah diselidiki dengan jalan membandingkannya dengan riwayat lain, kalimat yang terakhir adalah kalimat Ibn Mas’ud sendiri.[25] Ketiga, H}adi>th Mushahhaf adalah : H}adi>th yang terjadi karena perubahan kalimat  baik secara lafzi atau maknawi. Keempat, H}adi>th Muharraf adalah : h}adi>th yang menyalahi h}adi>th riwayat orang lain. Terjadi karena pcrubahan shakal kata dengan masih tetap bentuk tulisannya.[26] Kelima, H}adi>th Mukhtalit adalah h}adi>th yang perawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia. Yang dimaksud dengan buruk hafalannya ialah jika salahnya lebih banyak daripada benarnya dan hafalannya tidak lebih banyak dari lupanya. H}adi>th ini juga termasuk shadh dan tidak dapat dipakai hujjah. Keenam, H}adi>th Mud}t}arrab adalah h}adi>th yang diriwayatkan dengan jalan yang berbeda-beda, yang sama kuatnya.[27] Dengan demikian, berarti bahwa h}adi>th mud}t}arrab adalah sebuah h}adi>th yang diriwayatkan oleh seorang perawi dengan beberapa jalan yang berbeda, yang tidak mungkin dikumpulkan atau ditarjihkan. Id}t}arrab adakalanya terjadi pada sanad dan adakalanya terjadi pada matan.

Ketujuh, H}adi>th Mubham, Majhul dan Mastur. H}adi>th mubham artinya, h}adi>th yang di dalam matan atau sanad terdapat seorang perawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan. Keibhaman perawi h}adi>th tersebut dapat terjadi, karena tidak disebutkan namanya atau disebutkan namanya, tetapi tidak dijelaskan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan nama itu, sebab tidak mustahil bahwa nama itu dimiliki beberapa orang.[28]

7.1. H}adi>th mubham itu ada yang terdapat pada matan, dan ada  yang terdapat pada sanad. Menurut penyelidikan Al-Suyuti bahwa orang laki-laki yang bertanya kepada Rasu>l Alla>h SAW. ialah Abu>> Dzarr r.a.[29]

Dalam h}adi>th tersebut Hajjaj tidak menerangkan nama perawi yang memberikan h}adi>th kepadanya. Oleh karena itu sulit sekali untuk menyelidiki identitasnya.[30]

7.2. H}adi>th Majhul adalah h}adi>th yang diriwayatkan seorang perawi yang jelas identitasnya, namun belum teruji keahliannya, dan tidak ada perawi thiqah yang meriwayatkannya.

7.3. H}adi>th Mastur adalah h}adi>th yang diriwayatkan seorang perawi yang terkenal keadilan dan d}a>bitnya, tetapi belum mendapat dukungan atau pengakuan mayoritas masyarakat.[31]

d. D}a’>if dari segi Shadh. H}adi>th d}a’>if karena mengandung shadh. Dari segi bahasa shadh berarti h}adi>th yang ganjil. Sedangkan batasan h}adi>th shadh adalah h}adi>th yang diriwayatkan oleh perawi yang dipercaya, tetapi h}adi>thnya itu berlainan dengan sejumlah perawi yang juga  dipercaya. H}adi>th tersebut  mengandung keganjilan dibandingkan dengan h}adi>th-h}adi>th lain yang lebih kuat. Keganjilan itu bisa pada matan atau sanad atau pada keduanya.

Selain h}adi>th shadh ada juga yang dikenal dengan h}adi>th mahfuz} , yaitu h}adi>th yang diriwayatkan orang yang lebih thiqah yang menyalahi riwayat orang yang thiqah.

 

H}adi>th al-Turmudhy, yang bersanad Ibn ‘Uyainah, ‘Amr bin Di>na>r, ‘Ausajah dan Ibn ‘Abbas r.a adalah h}adi>th mahfuz}. Sebab h}adi>th tersebut, di samping mempunyai perawi-perawi yang terdiri dari orang-orang thiqah, juga mempunyai mutabi’ yaitu Ibn Juraij dan lainnya.

h}adi>th al-As}hab al-Sunan, yang bersandar Hammad bin Zayd, ‘Amr bin Di>na>r dan ‘Ausajah, adalah h}adi>th mursal; sebab ‘Ausajah meriwayatkan h}adi>th tersebut tanpa melalui s}ahabat Ibn ‘Abbas r.a. padahal dia adalah seorang tabi’iy. Hammad bin Zayd itu termasuk perawi yang thiqah, karenanya ia tergolong perawi yang diterima (maqbul) periwayatannya. Akan tetapi karena periwayatan Hammad bin Zayd itu berlawanan dengan periwayatan Ibn ‘Uyainah yang lebih rajih, karena sanadnya muttashil dan ada mutabi’nya. Maka h}adi>th al-Turmudhy yang melalui sanad Ibn ‘Uyainah-lah yang rajih dan disebut dengan h}adi>th mahfuz}, sedang h}adi>th al-Ashab al-Sunan yang bersanad Hammad bin Zayd, adalah marjuh dan disebut dengan h}adi>th shadh.[32]

H}adi>th Abu> Dau>d, yang bersanad Abu> al-Wahid bin Ziyad, al-A’masy, Abu> S}alih dan Abu>> Hurayrah r.a., yang diriwayatkan secara marfu’ itu, adalah h}adi>th shadh pada matan. Hal itu dapat diketahui setelah meninjau h}adi>th Bukhary yang bersanad ‘Abd Alla>h bin Yazid, Sa’i>d bin Abi> Ayyub, Abu> al Aswad, ‘Urwah bin Zubair dan ‘A>ishah r.a. , dan riwayat perawi-perawi lain yang lebih thiqah.[33]

Dengan memperhatikan ta’rif h}adi>th munkar dan ma’ruf di satu pihak, dan h}adi>th shadh dan mahfuz} di pihak lain, maka dapat ditarik perbedaan-perbedaan sebagai berikut:

1. Bahwa h}adi>th shadh diriwayatkan oleh perawi yang maqbul, tetapi menyalahi perawi lain yang lebih maqbul. Sedang h}adi>th munkar diriwayatkan oleh perawi yang ghairu-maqbul, menyalahi perawi yang maqbul.

2. H}adi>th shadh dan munkar sama-sama h}adi>th marjuh, sedang h}adi>th ma’ruf dan mahfuz}, kedua-duanya adalah h}adi>th yang rajih.

3. Hukum h}adi>th shadh adalah mardu>d. Hukum h}adi>th mahfuz} adalah maqbul.[34]

e. D}a>’if dari segi Illat. H}adi>th d}a’>if karena mengandung illat adalah h}adi>th mu’allal. Yaitu h}adi>th yang terungkap mengandung cacat yang menodai kes}ahihannya, meskipun sepintas tampak bebas dari cacat. Illat tersebut kadang ada pada sanad, kadang ada pada matan saja dan kadang ada pada sanad dan matan sekaligus.[35]

‘Illat h}adi>th ini terletak pada `Amr bin Di>na>r, semestinya bukan dia yang meriwayatkan, melainkan ‘Abd Alla>h bin Di>na>r. Hal ini hanya ber’illat pada sanadnya, tetapi matannya tetap s}ahih.[36]

Yang dimaksudkan dengan ‘Abd Alla>h ini adalah Abu>> Bakar bin Abi> Dau>d  al-Sijistaniy. Perawi hanya menyebut gurunya atau memberikan nisbat.[37]

Menurut Ibn S}alah, al-Khatib al-Baghdadi menggemari jenis ini dalam karya-karyanya. Di antaranya bahwa al-Khatib meriwayatkan dalam kitabnya bersumber dari Abu>> Qasim al-Azhari, dari Ubayd Alla>h bin Abi al-Fath al-Fasi dan Ubayd Alla>h bin Ahmad bin ‘Uthman al-S}airafi, sedangkan semuanya adalah orang yang sama. Al-Khatib juga meriwayatkan dari al-H}asan bin Muhammad al-Khilal, dari al-H}asan bin Abi> T}alib dan dari Abu> Muhammad al-Khilal, yang semua nama itu orangnya satu.[38]

Disamping kedua macam tadlis di atas, sebagian ‘ulama membagi tadlis dalam beberapa jenis, diantaranya apa yang dinamakan tadlis  at}af (merangkai dengan kata “dan”). Seperti kalau seorang perawi berkata:”Fulan dan Fulan menceritakan kepadaku”, padahal sebenarnya ia mendengar dari orang yang kedua. ada juga tadlis sukut, misanya perawi mengatakan:”Aku mendengar” atau “Telah bercerita kepadaku”, kemudian dia diam, baru setelah beberapa saat ia melanjutkan: “al-A’masi……”umpamanya. Hal tersebut mengesankan seolah-olah ia mendengar dari al-A’masi, padahal sebenarnya ia tidak mungkin mendengar langsung dari al-A’masi. Jenis yang lain ialah tadlis taswiyah. Yaitu periwayatan oleh seseorang dengan menggugurkan perawi yang bukan gurunya, karena dianggap lemah atau muda usianya, sehingga h}adi>th tersebut hanya diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya saja, agar dapat diterima dan ditetapkan sebagai h}adi>th s}ahih . Ini jenis tadlis yang paling buruk, karena mengandung penipuan yang keterlaluan.[39]

  1. C. Pemanfaatan h}adi>th d}a>’if untuk targhib dan tarhib

 

  1. 1. Dari segi sanad h}adi>th.

Pada sisi sanad h}adi>th d}a>’if bisa dijadikan hujjah apabila tingkat ketidak-d}abi>tan perawi  hanya sedikit, (hujjah) alasan[40] yang harus dikemukakan dalam rangka menetapkan atau mempertahankan pandangan yang diajukan[41]

Adapun pendapat para ahli sebagai berikut :

a. Ibn Rajab dalam Syarh ‘Illal al-Turmudzy (ditahkikkan oleh Nur al-Di>n ‘Itr). Beliau mengatakan: ”Dalam hal tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab, boleh saja menerima periwayatan dari orang-orang yang kurang kuat hafalannya, tetapi bukan dari mereka yang yang biasa dituduh sebagai pembohong. Sedangkan periwayatan dari orang-orang yang dicurigai atau diragukan kebenaran ucapannya, seharusnya dibuang saja. Begitulah yang dikatakan oleh Ibn Abi> Ha>tim dan selainnya”.[42]

b. Kemudian Imam al-Thauri menambahkan, bahwa yang dibolehkan oleh mereka hanyalah periwayatan dari sebagian perawi yang hafalannya agak lemah atau kurang cermat, meski mereka tidak termasuk sebagai imam yang ahli ilmu, dan mengetahui segala yang dikurangkan ataupun yang ditambahkan. Dan mereka ini orang-orang yang tak diragukan kejujuran dan kebenaran ucapannya. Keraguan yang ada hanya sekitar kuatnya hafalan mereka, kecermatan dan ketelitian mereka.[43]

c. al-Ha>fiz Ibn Hajar Asqalani termasuk ulama ahli h}adi>th lainnya  menetapkan tiga syarat untuk dapat diterimanya periwayatan yang lemah dalam h}adi>th tarhib dan targhib . Pertama, kelemahan itu tidak keterlaluan. karenanya harus ditolak periwayatan tunggal dari orang yang memang dikenal pembohong atau hafalannya tidak akurat. Kedua, makna h}adi>th itu masih dapat dalam tema dasar umum yang diakui. Ketiga, dalam penerapannya, hendaknya tidak dipercayai sebagai h}adi>th yang tak diragukan asalnya dari Nabi SAW (bersikap ihtiya>t}).

Akan tetapi jika sanad h}adi>th d}a>’if tidak bisa dijadikan hujjah apabila tingkat ketidak-d}abitan perawi banyak. Hal ini sebagaimana keberadaan h}adi>th mawd}u’, matruk, munkar, maqlub, mudraj, mushahhaf dan yang lainnya, yang dikategorikan d}a>’if dari segi keadilan dan ked}abi>tan perawi.

2. Dari segi matan h}adi>th.

Dari segi matan h}adi>th, bisa dijadikan hujjah apabila matan h}adi>th berupa tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.    Sedang masalah hukum-hukum shari>’ah, tidak boleh.

Pendapat para imam-imam seperti Ahmad ibn Hambal, ‘Abd al-Rahman ibn Mahdi>, ‘Abd Alla>h ibn al-Mubaraq yang mengatakan: “Jika kami meriwayatkan h}adi>th tentang halal, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanad-sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa, kami permudah sanadnya dan kami perlunak rawi-rawinya”.[44]

Akan tetapi ada yang berpendapat tidak bisa dijadikan hujjah, meski matan h}adi>th berupa tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab. Hal ini jika merujuk pendapat Imam Muslim dalam muqadimmah kitab al-S}ahih-nya, bahwa h}adi>th-h}adi>th  tarhib wa targhib sekalipun,  hendaknya  tidak   diriwayatkan  kecuali  yang diterima  dari  mereka  riwayatnya dalam  hadith-hadith  hukum.  Demikian  juga  pendapat mahzab Bukhary, Yahya> ibn Ma’in, kemudian para ulama yang datang kemudian seperti Ibn Hazm dari mazhab Za>hiri, al-Qa>dhi ibn al-‘Arabi> dari mazhab Mali>ki dan Abu> Sha>mah dari mazhab Shafi>’i.[45] Kemudian tokoh-tokoh masa kini, seperti al-Shaih Ahmad Muhammad Sha>kir dan Muhammad Nashir al-Di>n al-Albani.

 

 

 

 

 

 

 

  1. D. PENUTUP / KESIMPULAN

 

Dari Pembahasan-pembahasan makalah ini maka akhirnya dapat penulis simpulkan sebagai berikut:

  1. H}adi>th d}a>’if adalah  h}adi>th yang tidak memenuhi syarat-syarat h}adi>th maqbul, ( yang di dalamnya tidak terdapat sifat-sifat s}ahih dan h}asan).
  2. Kriteria h}adi>th d}a>’if yaitu: a) sanad terputus; b) perawi tidak ‘adil; c) perawi tidak d}a>bit; d) mengandung shadh; dan e) mengandung Illat.
  3. Katogeri dan macam-macam h}adi>th d}a>’if meliputi;
  1. Sanad yang terputus; h}adi>th mu’allaq, munqat}i’, mursal, mu’dlal, dan mudallas.
    1. Perawi yang tidak ‘adil;  h}adi>th mawd}u’, matruk,dan  munkar,
    2. Perawi yang tidak d}a>bit;   mudraj, maqlub, mud}t}arrab, muharraf, mushahhaf, mubham, majhul, mastur, mahfuz}, dan mukhtalit.
    3. Mengandung  shadh; h}adi>th shadh.
    4. Mengandung Illat; h}adi>th mu’allal.
  1. Pemanfaatan h}adi>th d}a>’if bisa dilihat dari segi sanad h}adi>th, yaitu bolehnya dijadikan hujjah dari perawi yang kurang d}abi>t dalam h}adi>th berisi tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab. Sedangkan h}adi>th mawd}u’, matruk, munkar, maqlub,mudraj,mushahaf yang tingkat ketidakd}a>bitannya banyak tidak boleh dijadikan hujjah. Adapun dari segi matan h}adi>th ada dua pendapat; pertama ,boleh dijadikan hujjah untuk h}adi>th berisi tarhib dan targhib, zuhud dan adab. Kedua, tidak boleh dijadikan hujjah sekalipun  h}adi>thnya berisi tarhib dan targhib, zuhud dan ‘adab.

DAFTAR PUSTAKA

 

-            Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, Jakarata : Bumi Aksara, 2010.

-            Ahmad, Muhammad. Ulumul H}adi>th. Bandung:Pustaka Setia, 2004.

-            Ajjaj, Muhammad al-Khathib. Ushu>l al-H}adi>th;’Ulu>muh wa Musthalahuh .Beirut: Dar al-Fikr, 1981.

-            Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Jakarta  :  PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 1997.

-            Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, Jakarta  :  Balai Pustaka, 1995.

-            Al-Hakim, Abu ‘Abd Alla>h Muhammad bin ‘Abd Alla>h al-Naysaburi. Kita>b Ma’rifah‘Ulu>m al-H}adi>th. Kairo: Maktabah al-Matnabi, tt.

-            Hazemi, Izzuddin. dkk, Hadits-hadits Shohih tentang anjuran dan janji pahala, Ancaman dan Dosa, Jakarta, : Pustaka Sahifa, 2007.

-            Al-Sabbag, Muhammad. Al-H}adi>th al-Nabawi> ; Mushthalahuh Balagatuh,’Ulu>muh, Kutubuh. Mansyurat al-Maktab al-Islami, 1392H/1972M.

-            Al-S}alih, Subhi. ‘Ulu>m al- H}adi>th wa Musthalahuhu. terj.Tim Pustaka Firdaus. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002.

-            Al-Tahhan, Mahmud. Tasyir Mustalah al-H}adi>th. Riyadl: Maktabah, al-Ma’arif, 1987.

-            Ishaq Tholani, Moh., “ Hadits Dhaif dan Problematikanya” dalam http:// riuisme, wordpress.com. (14 Juni 2008)

-            ‘Itr, Nur al-Di>n. Manha>j an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>th . Beirut: Dar al-Fikr, 1979.

-            Rahman, Fathur. Ikhtishar Mushthalah al-H}adi>th. Bandung: Al-Ma’arif, 1991.

-            Ranuwijaya, Utang. Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1996.

-            Qardhawi, Yusuf. Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah. terj. Ali Baghir Bandung: Karisma,1994.

 


[1] Moh. Ishaq Tholani, “ Hadits Dhaif dan Problematikanya” dalam http:// riuisme, wordpress.com. (14 Juni 2008)

[2] Ibid., 2

[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  Balai Pustaka, 1995),333

[4] Ibid., 205

[5] Ishaq, 2

[6] Izzuddin Hazemi, dkk, Hadits-hadits Shohih tentang anjuran dan janji pahala, Ancaman dan Dosa, (Jakarta, : Pustaka Sahifa, 2007), 9.

[7] Abdul Majid Khon, Ulumul Hadis, ( Jakarata : Bumi Aksara, 2010), 163

[8] Ibid, 164

[9] Ibid, 164

[10] Moh. Ishaq Tholani, “ Hadits Dhaif dan Problematikanya”, 2

[11] AjajIbid, 3

[12] Ibid, 3

[13] Nur al-Din ‘Itr, Manha>j an-Naqd fi> ‘Ulu>m al-H}adi>th (Beirut: Dar al-Fikr, 1979), 286.

[14] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th wa Musthalahuhu. terj.Tim Pustaka Firdaus(Jakarta: Pustaka Firdaus,2002), 208.

[15] Muhammad al-Sabbag, Al-H}adi>th al-Nabawi>, 175.

[16] al-Hakim, Abu ‘Abd Alla>h Muhammad bin ‘Abd Alla>h al-Naysaburi, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m al-H}adi>th

(Kairo: Maktabah al-Matnabi, tt), 25.

 

[17] Mahmud al-Tahhan, Tasyir Mustalah al-H}adi>th , 75.

[18] al-Hakim, Kita>b Ma’rifah ‘Ulu>m , 36.

[19] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 163.

[20] Utang Ranuwijaya, Ilmu H}adi>th, 188.

[21] Lihat al-Taysir, 94.

[22] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 190.

[23] Ibid, 180.

[24] Muhammad Ahmad, Ulumul H}adi>th , 157.

[25] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 162.

[26] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 373.

[27] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 112.

[28] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 169.

[29] Ibid, 170.

[30] Ibid., 196.

[31] Ibid., 197.

[32] Ibid., 174.

[33] Ibid., 175.

[34] Mahmud al-Tahhan, Tasyir , 117-119.

[35] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 309.

[36] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 188.

[37] Muhammad Ajjaj al-Khathib, Ushu>l al-H}adi>th , 308.

[38] Subhi al-S}alih, ‘Ulu>m al- H}adi>th , 164.

[39] Ibid., 165.

[40] Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  Balai Pustaka, 1995), 259

[41] Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 1997),  227

 

[42] Yusuf Qardhawi, Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah al-Nabawiyah, terj. Ali Baghir (Bandung: Karisma,1994), 70.

[43] Ibid., 71.

[44] Fathurrahman, Ikhtisar Mustalah , 200.

[45] Yusuf Qardhawi, Kaifa Nafa’amalu Ma’a al-Sunnah, 72.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA KERAJAAN MUGHAL (INDIA)

SEJARAH PERADABAN ISLAM PADA KERAJAAN MUGHAL (INDIA)

A. Pendahuluan

Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, dan peristiwa yang unik dan berlaku. Hanya sekali dan tidak terulang untuk yang kedua kalinya[1]. Oleh karena itu, ada pandangan bahwa masa silam tidak perlu dihiraukan lagi, anggap saja masa silam itu ”kuburan”. Pandangan ini tentu saja sangat subyektif dan cenderung apriori sekaligus tidak memiliki argumentasi yang kuat. Tapi bagaimanapun sebuah perirtiwa pada masa silam bisa dijadikan pandangan untuk kehidupan yang akan datang agar lebih baik.

Seperti takdir yang telah Allah tentukan di setiap kehidupan di muka bumi ini. Mengalami masa pertumbuhan, kejayaan dan setelah sampai titik puncaknya akan mengalami masa kemunduran dan bahkan kehancuran, bak sebuah roda yang berputar.

Kemunculan tiga kerajaan Islam yaitu Kerajaan Turki Ustmani, Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban islam. Kerajaan Usmani meraih puncak kejayaan dibawah kepemimpinan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M) di kerajaan safawi, Syah Abbas I membawa kerajaan tersebut meraih kemajuan dalam 40 tahun periode kepemerintahannya dari tahun 1588-1628 M. Dan di Kerajaan Mughal meraih masa keemasan di bawah Sultan Akbar (1542-1605 M).

 

Seperti takdir yang telah Allah tentukan di setiap kejayaan tentu akan berganti dengan kemunduran bahkan sebuah kehancuran. Demikian pula yang terjadi pada ketiga kerajaan tersebut. Setelah pemerintahan yang gilang gemilang dibawah kepemimpinan tiga raja itu, masing-masing kerajaan mengalami fase kemunduran. Akan tetapi penyebab kemunduran tersebut berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Demikian pula yang terjadi pada Kerajaan Mughal (India) yang telah banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan peradaban Islam. Kemunduran-kemunduran inilah yang akan penulis bahas dalam makalah ini. Karena pengaruhnya sangat besar terhadap kelangsungan peradaban Islam secara keseluruhan.

 

Sejak Islam masuk ke India pada masa Khalifah al-Walid dari Dinasti Bani Umayyah melalui ekspedisi yang dipimpin oleh panglima Muhammad Ibn Qasim[2] peradaban Islam mulai tumbuh dan menyebar di anak benua India. Kedudukan Islam di wilayah ini dan berhasil menaklukkan seluruh kekuasaan Hindu dan serta mengislamkan sebagian masyarakatnya[3] India pada tahun 1020 M. Setelah Gaznawi hancur muncullah beberapa dinasti kecil yang menguasai negeri India ini, seperti Dinasti Mamluk, Khalji, Tuglug,  dan yang terakhir Dinasti Lodi yang didirikan  Bahlul Khan Lody.[4]

Hadirnya Kerajaan Mughal membentuk sebuah peradaban baru di daerah tersebut dimana pada saat itu mengalami kemunduran dan keterbelakangan. Kerajaan Mughal yang bercorak Islam mampu membangkitkan semangat ummat Islam di India.

Hal ini menunjukkan bahwa Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada dinasti Abbasiyah.

  1. B. PEMBAHASAN

  1. 1. Asal-usul Kerajaan Mughal

Kerajaan Mughal merupakan kelanjutan dari kesultanan Delhi[5], sebab ia menandai puncak perjuangan panjang untuk membentuk sebuah imperium India muslim yang didasarkan pada sebuah sintesa antara warisan bangsa Persia dan bangsa India. Kerajaan Mughal bukanlah kerajaan Islam pertama di India. Jika pada dinasti-dinasti sebelumnya Islam belum menemukan kejayaannya, maka kerajaan ini justru bersinar dan berjaya. Keberadaan kerajaan ini dalam periodisasi sejarah Islam dikenal sebagai masa kejayaan kedua setelah sebelumnya mengalami kecemerlangan pada dinasti Abbasiyah.

Kerajaan Mogul (Mughal-pen) ini didirikan oleh Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530M)[6] salah satu dari cucu Timor Lenk. Ayahnya Umar Mirza, penguasa Ferghana. Babur mewarisi daerah Ferghana dari orang tuanya ketika ia masih berusia 11 tahun. Ia berambisi dan bertekat akan menaklukkan Samarkand yang menjadi kota penting di Asia Tengah pada masa itu. Pada mulanya, ia mengalami kekalahan, tetapi karena mendapat bantuan dari Raja Safawi, Ismail I akhirnya berhasil menaklukkan Samarkand pada tahun 1494 M.

Pada tahun 1504 M, ia menduduki Kabul, ibu kota Afganistan. Setelah Kabul dapat ditaklukkan, Babur meneruskan ekspansinya ke India. Kala itu Ibrahim Lodi, penguasa India, dilanda krisis, sehingga stabilitas pemerintahan menjadi kacau. Alam Khan, paman dari Ibrahim Lodi, bersama-sama Daulat Khan, Gubernur Lahore, mengirim utusan ke Kabul, meminta bantuan Babur untuk menjatuhkan pemerintahan Ibrahim Lody di Delhi.[7] Permohonan  itu langung diterimanya. Pada tahun 1525 M, Babur berhasil menguasai Punjab dengan ibu kota Lahore. Setelah itu, ia memimpin tentaranya menuju Delhi. Pada 21 April 1526 M, terjadilah pertempuran yang dahsyat di Panipat. Ibrahim Lody beserta ribuan tentaranya terbunuh dalam pertempuran itu. Babur memaski kota Delhi sebagai pemenang dan menegakkan pemerintahannya di sana. Dengan demikian berdirilah Kerajaan Mughal di India.

Dari pendapat di atas, sesuatu yang dapat disepakati bahwa Kerajaan Mughal merupakan warisan kebesaran Timur Lenk, dan bukan warisan keturunan India yang asli. Meskipun demikian, Dinasti Mughal telah memberi warna tersendiri bagi peradaban orang-orang India yang sebelumnya identik dengan agama Hindu.

Babur bukanlah orang India[8]. Syed Mahmudunnasir menulis, “Dia bukan orang Mughal. Di dalam memoarnya dia menyebut dirinya orang Turki.[9] Akan tetapi, cukup aneh, dinasti yang didirikannya dikenal sebagai dinasti Mughal. Sebenarnya Mughal menjadi sebutan umum bagi para petualang yang suka perang dari Persia di Asia Tengah, dan meskipun Timur (Timur Lenk) dan semua pengikutnya menyumpahi nama itu sebagai nama musuhnya yang paling sengit, nasib merekalah untuk dicap dengan nama itu, dan sekarang tampaknya terlambat untuk memperbaiki kesalahan itu.”

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa faktor berdirinya Kerajaan Mughal adalah:

  1. Ambisi dan karakter Babur sebagai pewaris keperkasaan ras Mongolia
  2. Sebagai jawaban atas krisis yang tengah melanda India.

 

Raja-raja Mughal

Selama masa pemerintahannya Kerajaan Mughal dipimpin oleh beberapa orang raja. Raja-raja yang sempat memerintah adalah:

  1. Zahiruddin Muhammad Babur (1526-1530) adalah : Raja pertama sekaligus pendiri Kerajaan Mughal. Masa kepemimpinannnya digunakan untuk membangun fondasi pemerintahan. Awal kepemimpinannya, Babur masih menghadapi ancaman pihak-pihak musuh, utamanya dari kalangan Hindu yang tidak menyukai berdirinya Kerajaan Mughal. Orang-orang Hindu segera menyusun kekuatan gabungan, namun Babur berhasil mengalahkan mereka dalam suatu pertempuran[10]. Sementara itu dinasti Lodi berusaha bangkit kembali menentang pemerintahan Babur dengan pimpinan Muhammad Lodi. Pada pertempuran di dekat Gogra, Babur dapat menumpas kekuatan Lodi pada tahun 1529[11]. Setahun kemudian yakni pada tahun 1530 Babur meninggal dunia.
  2. Humayun (1530-1556), Sepeninggal Babur, tahta Kerajaan Mughal diteruskan oleh anaknya yang bemama Humayun. Humayun memerintah selama lebih dari seperempat abad (1530-1556 M). Pemerintahan Humayun dapat dikatakan sebagai masa konsolidasi kekuatan periode I. Sekalipun Babur berhasil mengamankan Mughal dari serangan musuh, Humayun masih saja menghadapi banyak tantangan. Ia berhasil mengalahkan pemberontakan Bahadur Syah, penguasa Gujarat yang bermaksud melepaskan diri dari Delhi. Pada tahun 1450 Humayun mengalami kekalahan dalam peperangan yang dilancarkan oleh Sher Khan dari Afganistan. Ia melarikan diri ke Persia.

Di pengasingan ia kembali menyusun kekuatan. Pada saat itu Persia dipimpin oleh penguasa Safa¬wiyah yang bernama Tahmasp. Setelah lima belas tahun menyusun kekuatannya dalam pengasingan di Persia, Humayun berhasil menegakkan kembali kekuasaan Mughal di Delhi pada tahun 1555 M. Ia mengalahkan ke¬kuatan Khan Syah. Setahun kemudian, yakni pada tahun 1556 Humayun meninggal. Ia digantikan oleh putranya Akbar.

  1. Akbar (1556-1605), Pengganti Humayun adalah raja Mughal paling kontroversial. Masa pemerintahannya dikenal sebagai masa kebangkitan dan kejayaan Mughal sebagai sebuah dinasti Islam yang besar di India. Ketika menerima tahta kera¬jaan ini Akbar baru berusia 14 tahun, sehingga seluruh urusan pemerintahan dipercayakan kepada Bairam Khan, seorang penganut Syi’ah. Di awal masa pemerintahannya, Akbar menghadapi pemberontakan sisa-sisa keturunan Sher Khan Shah yang masih ber¬kuasa di Punjab. Pemberontakan yang paling mengancam kekuasaan Akbar adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Himu yang menguasai Gwalior dan Agra. Pasukan pemberontak berusaha memasuki kota Delhi. Bairam Khan menyambut kedatangan pasukan tersebut sehingga terjadilah peperangan dahsyat yang disebut Panipat II pada tahun 1556 M. Himu dapat dikalah¬kan dan ditangkap, kemudian dieksekusi. Dengan demikian, Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh. Setelah Akbar dewasa ia berusaha menyingkirkan Bairam Khan yang sudah mempunyai pengaruh sangat kuat dan terlampau memaksakan kepentingan aliran Syi’ah. Bairam Khan memberontak, tetapi dapat dikalahkan oleh Akbar di Jullandur[12] tahun 1561 M. Setelah persoalan-persoalan dalam negeri dapat diatasi, Akbar mulai menyusun program ekspansi. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah. Wilayah yang sangat luas itu diperintah dalam suatu pemerintahan militeristik.

Keberhasilan ekspansi militer Akbar menandai berdirinya Mughal sebagai sebuah kerajaan besar[13]. Dua gerbang India yakni kota Kabul sebagai gerbang ke arah Turkistan, dan kota Kandahar sebagai gerbang ke arah Persia, dikuasai oleh pemerintahan Mughal[14]. Menurut Abu Su’ud, dengan keberhasilan ini Akbar bermaksud ingin mendirikan Negara bangsa (nasional). Maka kebijakan yang dijalankannya tidak begitu menonjolkan spirit Islam, tetapi bagaimana mempersatukan berbagai etnis yang membangun dinastinya. Keberhasilan Akbar mengawali masa kemajuan Mughal di India.

  1. Jahangir (1605-1627), Kepemimpinan Jihangir yang didukung oleh kekuatan militer yang besar. Semua kekuatan musuh dan gerakan pemberontakan berhasil dipadamkan, sehingga seluruh rakyat hidup dengan aman dan damai[15]. Pada masa kepemimpinannya, Jehangir berhasil menundukkan Bengala (1612 M), Mewar (1614 M) Kangra. Usaha-usaha pengamanan wilayah serta penaklukan yang ia lakukan mempertegas kenegarawanan yang diwarisi dari ayahnya yaitu Akbar.
  2. Syah Jihan (1628¬-1658) tampil meggantikan Jihangir. Bibit-bibit disintegrasi mulai tumbuh pada pemerintahannya[16]. Hal ini sekaligus menjadi ujian terhadap politik toleransi Mughal. Dalam masa pemerintahannya terjadi dua kali pemberontakan. Tahun pertama masa pemerintahannya, Raja Jujhar Singh Bundela berupaya memberontak dan mengacau keamanan, namun berhasil dipadamkan. Raja Jujhar Singh Bundela kemudian diusir. Pemberontakan yang paling hebat datang dari Afghan Pir Lodi atau Khan Jahan, seorang gubernur dari provinsi bagian Selatan. Pemberontakan ini cukup menyulitkan. Namun pada tahun 1631 pemberontakan inipun dipatahkan dan Khan Jahan dihukum mati.

Pada masa ini para pemukim Portugis di Hughli Bengala mulai berulah. Di samping mengganggu keamanan dan toleransi hidup beragama, mereka menculik anak-anak untuk dibaptis masuk agama Kristen. Tahun 1632 Shah Jahan berhasil mengusir para pemukim Portugis dan mencabut hak-hak istimewa mereka. Shah Jehan meninggal dunia pada 1657, setelah menderita sakit keras. Setelah kematiannya terjadi perang saudara. Perang saudara tersebut pada akhirnya menghantar Aurangzeb sebagai pemegang Dinasti Mughal berikutnya.

  1. Aurangzeb (1658-1707), Aurangzeb (1658-1707) menghadapi tugas yang berat. Kedaulatan Mughal sebagai entitas Muslim India nyaris hancur akibat perang saudara. Maka pada masa pemerintahannya dikenal sebagai masa pengembalian kedaulatan umat Islam. Penulis menilai periode ini merupakan masa konsolidasi II Kerajaan Mughal sebagai sebuah kerajaan dan sebagai negeri Islam. Aurangzeb berusaha mengembalikan supremasi agama Islam yang mulai kabur akibat kebijakan politik keagamaan Akbar.
  2. Bahadur Syah (1707-1712), Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri. Raja-raja sesudah Aurangzeb mengawali ke¬munduran dan kehancuran Kerajaan Mughal.

Bahadur Syah menggantikan kedudukan Aurangzeb. Lima tahun kemudian terjadi perebutan antara putra-putra Bahadur Syah. Jehandar dimenangkan dalam persaingan tersebut dan sekaligus dinobatkan sebagai raja Mughal oleh Jenderal Zulfiqar Khan meskipun Jehandar adalah yang paling lemah di antara putra Bahadur. Penobatan ini ditentang oleh Muhammad Fahrukhsiyar, keponakannya sen¬diri.

Dalam pertempuran yang terjadi pada tahun 1713, Fahrukhsiyar keluar sebagai pe¬menang. Ia menduduki tahta kerajaan sampai pada tahun 1719 M. Sang raja meninggal ter¬bunuh oleh komplotan Sayyid Husein Ali dan Sayyid Hasan Ali. Keduanya kemudian meng¬angkat Muhammad Syah (1719-1748). Ia kemudian dipecat dan diusir oleh suku Asyfar di bawah pimpinan Nadzir Syah. Tampilnya sejumlah penguasa lemah bersamaan dengan terjadinya perebutan kekuasaan ini selain memperlemah kerajaan juga membuat pemerintahan pusat tidak terurus secara baik[17]. Akibatnya pemerintahan daerah berupaya untuk melepaskan loyalitas dan integritasnya terhadap pemerintahan pusat.

 

  1. Jehandar (1712-1713), Pada masa pemerintahan Syah Alam (1760¬-1806) Kerajaan Mughal diserang oleh pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani. Kekalahan Mughal dari serangan ini, berakibat jatuhnya Mughal ke dalam kekuasa¬an Afghan. Syah Alam tetap diizinkan berkuasa di Delhi dengan jabatan sebagai sultan.
    Akbar II (1806-1837 M) pengganti Syah Alam, membe¬rikan konsesi kepada EIC untuk mengembang¬kan perdagangan di India sebagaimana yang diinginkan oleh pihak Inggris, dengan syarat bahwa pihak perusahaan Inggris harus menja¬min penghidupan raja dan keluarga istana. Kehadiran EIC menjadi awal masuknya pengaruh Inggris di India.
  2. Bahadur Syah (1837-1858). Bahadur Syah (1837-1858) pengganti Akbar II menentang isi perjanjian yang telah disepa¬kati oleh ayahnya. Hal ini menimbulkan konflik antara Bahadur Syah dengan pihak Inggris. Bahadur Syah, raja terakhir Kerajaan Mughal diusir dari istana pada tahun (1885 M). Dengan demikian ber¬akhirlah kekuasaan kerajaan Islam Mughal di India.

  1. 2. Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal

  1. 1. Bidang Politik dan Administrasi Pemerintahan

ü  Perluasan wilayah. Ia berhasil menguasai Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar, Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Deccan, Gawilgarh, Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah.[18] dan konsolidasi kekuatan. Usaha ini berlangsung hingga masa pemerintahan Aurangzeb.

ü  Menjalankan roda pemerintahan secara, pemerintahan militeristik.

ü  Pemerintahan daerah dipegang oleh seorang Sipah Salar (kepala komandan), sedang sub-distrik dipegang oleh Faujdar (komandan). Jabatan-jabatan sipil juga diberi jenjang kepangkatan yang bercorak kemiliteran. Pejabat-pejabat itu memang diharuskan mengikuti latihan kemiliteran

ü  Akbar menerapkan politik toleransi universal (sulakhul). Dengan politik ini, semua rakyat India dipandang sama. Mereka tidak dibedakan karena perbedaan etnis dan agama.[19] Politik ini dinilai sebagai model toleransi yang pernah dipraktekkan oleh penguasa Islam.

ü  Pada Masa Akbar terbentuk landasan institusional dan geografis bagi kekuatan imperiumnya yang dijalankan oleh elit militer dan politik yang pada umumnya terdiri dari pembesar-pembesar Afghan, Iran, Turki, dan Muslim Asli India. Peran penguasa di samping sebagai seorang panglima tentara juga sebagai pemimpin jihad.

ü  Para pejabat dipindahkan ¬dari sebuah jagir kepada jagir lainnya untuk menghindarkan mereka mencapai interes yang besar dalam sebuah wilayah tertentu. Jagir adalah sebidang tanah yang diperuntukkan bagi pejabat yang sedang berkuasa. Dengan demikian tanah yang diperuntukkan tersebut jarang sekali menjadi hak milik pejabat, kecuali hanya hak pakai.

ü  Wilayah imperium juga dibagi menjadi sejumlah propinsi dan distrik yang dikelola oleh seorang yang dipimpin oleh pejabat pemerintahan pusat untuk mengamankan pengumpulan pajak dan untuk mencegah penyalahgunaan oleh kaum petani.[20]

  1. 2. Bidang Ekonomi

ü  Terbentuknya sistem pemberian pinjaman bagi usaha pertanian.

ü  Adanya sistem pemerintahan lokal yang digunakan untuk mengumpulkan hasil pertanian dan melindungi petani. Setiap perkampungan petani dikepalai oleh seorang pejabat lokal, yang dinamakan muqaddam atau patel, yang mana kedudukan yang dimilikinya dapat diwariskan, bertanggungjawab kepada atasannya untuk menyetorkan penghasilan dan menghindarkan tindak kejahatan. Kaum petani dilindungi hak pemilikan atas tanah dan hak mewariskannya, tetapi mereka juga terikat terhadapnya.

ü  Sistem pengumpulan pajak yang diberlakukan pada beberapa propinsi utama pada imperium ini. Perpajakan dikelola sesuai dengan system zabt. Sejumlah pembayaran tertentu dibebankan pada tiap unit tanah dan harus dibayar secara tunai. Besarnya beban tersebut didasarkan pada nilai rata-rata hasil pertanian dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil pajak yang terkumpul dipercayakan kepada jagirdar, tetapi para pejabat lokal yang mewakili pemerintahan pusat mempunyai peran penting dalam pengumpulan pajak. Di tingkat subdistrik administrasi lokal dipercayakan kepada seorang qanungo, yang menjaga jumlah pajak lokal dan yang melakukan pengawasan terhadap agen-agen jagirdar, dan seorang chaudhuri, yang mengumpulkan dana (uang pajak) dari zamindar.

ü  Perdagangan dan pengolahan industri pertanian mulai berkembang. Pada asa Akbar konsesi perdagangan diberikan kepada The British East India Company (EIC) -Perusahaan Inggris-India Timur- untuk menjalankan usaha perdagangan di India sejak tahun 1600. Mereka mengekspor katun dan busa sutera India, bahan baku sutera, sendawa, nila dan rempah dan mengimpor perak dan jenis logam lainnya dalam jumlah yang besar[21].

  1. 3. Bidang Agama

ü  Pada masa Akbar, perkembangan agama Islam di Kerajaan Mughal mencapai suatu fase yang menarik, di mana pada masa itu Akbar memproklamasikan sebuah cara baru dalam beragama, yaitu konsep Din-i-Ilahi. Karena aliran ini Akbar mendapat kritik dari berbagai lapisan umat Islam. Bahkan Akbar dituduh membuat agama baru. Pada prakteknya, Din-i-Ilahi bukan sebuah ajaran tentang agama Islam. Namun konsepsi itu merupakan upaya mempersatukan umat-umat beragama di India. Sayangnya, konsepsi tersebut mengesankan kegilaan Akbar terhadap kekuasaan dengan simbol-simbol agama yang di kedepankan[22]. Umar Asasuddin Sokah, seorang peneliti dan Guru Besar di Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyamakan konsepsi Din-i-Ilahi dengan Pancasila di Indonesia. Penelitiannya menyimpulkan, “Din-i-llahi itu merupakan (semacam Ideologi/dasar pemerintahan Akbar) dan Pancasilanya bagi bangsa Indonesia.[23]

ü  Perbedaan kasta di India membawa keuntungan terhadap pengembangan Islam, seperti pada daerah Benggal, Islam langsung disambut dengan tangan terbuka oleh penduduk terutama dari kasta rendah yang merasa disia-siakan dan dikutuk oleh golongan Arya Hindu yang angkuh. Pengaruh Parsi sangat kuat, hal itu terlihat dengan digunakanya bahasa Persia menjadi bahasa resmi Mughal dan bahasa dakwah, oleh sebab itu percampuran budaya Persia dengan budaya India dan Islam melahirkan budaya Islam India yang dikembangkan oleh Dinasti Mughal.

ü  Berkembangnya aliran keagamaan Islam di India. Sebelum dinasti Mughal, muslim India adalah penganut Sunni fanatik[24]. Tetapi penguasa Mughal memberi tempat bagi Syi’ah untuk mengembangkan pengaruhnya.

ü  Pada masa ini juga dibentuk sejumlah badan keagamaan berdasarkan persekutuan terhadap mazhab hukum, tariqat Sufi, persekutuan terhadap ajaran Syaikh, ulama, dan wali individual. Mereka terdiri dari warga Sunni dan Syi’i.

ü  Pada masa Aurangzeb berhasil disusun sebuah risalah hukum Islam atau upaya kodifikasi hukum Islam yang dinamakan fatwa Alamgiri. Kodifikasi ini menurut hemat penulis ditujukan untuk meluruskan dan menjaga syari’at Islam yang nyaris kacau akibat politik Sulakhul dan Din-i- Ilahi.

  1. 4. Bidang Seni dan Budaya

ü  Munculnya beberapa karya sastra tinggi seperti Padmavat yang mengandung pesan kebajikan manusia gubahan Muhammad Jayazi, seorang penyair istana. Abu Fadhl menulis Akbar Nameh dan Aini Akbari yang berisi sejarah Mughal dan pemimpinnya.

ü  Kerajaan Mughal termasuk sukses dalam bidang arsitektur. Taj mahal di Agra merupakan puncak karya arsitektur pada masanya, diikuti oleh Istana Fatpur Sikri peninggalan Akbar dan Mesjid Raya Delhi di Lahore. Di kota Delhi Lama (Old Delhi), lokasi bekas pusat Kerajaan Mughal, terdapat menara Qutub Minar (1199), Masjid Jami Quwwatul Islam (1197), makam Iltutmish (1235), benteng Alai Darwaza (1305), Masjid Khirki (1375), makam Nashirudin Humayun, raja Mughal ke-2 (1530-1555). Di kota Hyderabad, terdapat empat menara benteng Char Minar (1591). Di kota Jaunpur, berdiri tegak Masjid Jami Atala (1405).

ü  Taman-taman kreasi Moghul menonjolkan gaya campuran yang harmonis antara Asia Tengah, Persia, Timur Tengah, dan lokal.

  1. 3. Sebab-sebab kemunduran dan keruntuhan Kerajaan Mughal

Raja-raja pengganti Aurangzeb merupakan penguasa yang lemah sehingga tidak mampu mengatasi kemerosotan politik dalam negeri.Tanda-tanda kemunduran sudah terlihat dengan indikator sebagaimana berikut ;

ü Internal; Tampilnya sejumlah penguasa lemah, terjadinya perebutan kekuasaan, dan lemahnya kontrol pemerintahan pusat.

ü Eksternal; Terjadinya pemberontakan di mana-mana, seperti pemberontakan kaum Sikh di Utara, gerakan separatis Hindu di India tengah, kaum muslimin sendiri di Timur, dan yang terberat adalah invasi Inggris melalui EIC.

ü Dominasi Inggris diduga sebagai faktor pendorong kehancuran Mughal. Pada waktu itu EIC mengalami kerugian. Untuk menutupi kerugian dan sekaligus memenuhi kebutuhan istana, EIC mengadakan pungutan yang tinggi terhadap rakyat secara ketat dan cenderung kasar. Karena rakyat merasa ditekan, maka mereka, baik yang beragama Hindu maupun Islam bangkit mengadakan pemberontakan.

ü Mereka meminta kepada Bahadur Syah untuk menjadi lambang perlawanan itu dalam rangka me¬ngembalikan kekuasaan kerajaan. Dengan demikian, terjadilah perlawanan rakyat India terhadap kekuatan Inggris pada bulan Mei 1857 M. Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka diusir dari kota Delhi, rumah-¬rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M). Dengan demikian berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan India.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan dinasti Mughal mundur dan membawa kepada kehancurannya pada tahun 1858 M yaitu:

  1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal.
  2. Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  3. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau “kasar” dalam melak¬sanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antaragama sangat sukar diatasi oleh sultan¬-sultan sesudahnya.
  4. Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[25]

PENUTUP

Toynbee menyatakan setiap kebudayaan yang dewasa memiliki empat tahap

hidup: lahir, tumbuh, runtuh, dan silam. Kerajaan Mughal telah melewati konsepsi itu. Namun Kerajaan Mughal tidak mungkin lepas dari sejarah Islam sekaligus sejarah India, karena kerajaan ini merupakan warisan dua peradaban besar tersebut. Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Islam telah mewariskan dan memberi pengayaan terhadap khazanah kebudayaan India. Sepertinya tepat yang ditulis oleh Roger Garaudy bahwa “Islam telah membawakan kepada manusia suatu dimensi transenden (ketuhanan) dan dimensi masyarakat (umat) .
  2. Dengan hadirnya Kerajaan Mughal, maka kejayaan India dengan peradaban Hindunya yang nyaris tenggelam, kembali muncul.
  3. Kemajuan yang dicapai Kerajaan Mughal telah memberi inspirasi bagi perkembangan peradaban dunia baik politik, ekonomi, budaya dan sebagainya. Misalnya, politik toleransi (sulakhul), system pengelolaan pajak, seni arsitektur dan sebagainya.
  4. Kerajaan Mughal telah berhasil membentuk sebuah kosmopolitan Islam-India daripada membentuk sebuah kultur Muslim secara eksklusif.
  5. 5. Kemunduran suatu peradaban tidak lepas dari lemahnya kontrol dari elit penguasa, dukungan rakyat dan kuatnya sistem keamanan. Karena itu masuknya kekuatan asing dengan bentuk apapun perlu diwaspadai.

DAFTRA KEPUSTAKAAN

 

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,1993)

Bloger dalm http://www..com/post-edit.g?blogID=76

Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008)

Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 1997),

Fakta sejarah dalam http://www.hidayatullah.com/kolom/ worldviews/9687 http://yacobsemesta.wordpress.com/2009/04/25/kerajaan-mughal/

M. Mujib, The Indian Muslim, ( London : George Alen, 1967), 254

 

 


[2] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 2008), 261

[3] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada,1993), 147

[4] Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  PT ICHTIAR BARU VAN HOEVE, 1997),  211

[5] Badri Yatim,  147

[6] Ibid, 211

[7] Ibid, 147

[9] Ibid,

[10] Ibid,

[11] Ibid.

[13] Yatim, 262

[14] Ibid

[15] Ibid

[18] M. Mujib, The Indian Muslim, ( London : George Alen, 1967), 254

[19] Yatim, 149

[21] Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 2, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  PT Ichtiar baru van hoeve, 1997),  211

[24] Ibid

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

SEJARAH PERKEMBANGAN THARIQAT DI INDONESIA

SEJARAH PERKEMBANGAN THARIQAT DI INDONESIA

Pendahuluan

Berbicara tentang perkembangan tarekat di Indonesia tentu tidak akan bisa lepas dari agama Islam berasal. Islam berasal dari jazirah Arab dibawa oleh Rasulullah, kemudian diteruskan masa Khulafa ar-Rasyidin ini mengalami perkembangan yang pesat. Penyebarluasan Islam ini bergerak ke seluruh penjuru dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.[1]

Tarekat berasal dari bahasa Arab : tarekaq, jamaknya tara’iq. Secara etimologi berarti : (1) jalan, cara (al-kaifiyyah); (2) metode, sistem (al-uslub); (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab);[2] Menurut  istilah …tarekat berarti perjalanan seorang saleh (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan [3]

Dalam tasawwuf seringkali dikenal istilah Thariqah, yang berarti jalan, yakni jalan untuk mencapai Ridla Allah. Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan, sehingga sebagian sufi menyatakan, At thuruk bi adadi anfasil mahluk, yang artinya jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya mahluk, aneka ragam dan macamnya. Orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati, karena : Ada yang sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak diterima. (Mu’tabarah. Wa ghairu Mu’tabarah)

Ada beberapa hal yang menjadi penting dalam pembahasan sejarah perkembangan tarekat di Indonesia, yakni :

  1. Sejarah pertumbuhan dan perkembangan tarekat
  2. Periodisasi sejarah perkembangan tarekat di Indonesia
  3. Penutup
  1. Pembahasan
  1. Sejarah pertumbuhan dan perkembangan tarekat

Sebenarnya membicarakan tarekat, tentu tidak bisa terlepas dengan tasawuf karena pada dasarnya Tarekat itu sendiri bagian dari tasawuf. Di dunia Islam tasawuf telah menjadi kegiatan kajian keislaman dan telah menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Landasan tasawuf yang terdiri dari ajaran nilai, moral dan etika, kebajikan, kearifan, keikhlasan serta olah jiwa dalam suatu kehkusyuan telah terpancang kokoh. Sebelum ilmu tasawuf ini membuka pengaruh mistis keyakinan dan kepercayaan sekaligus lepas dari saling keterpengaruhan dengan berbagai kepercayaan atau mistis lainya. Sehingga kajian tasawuf dan tarekat tidak bisa dipisahkan dengan kajian terhadap pelaksananya di lapangan.

Dalam hal ini praktek ubudiyah dan muamalah dalam tarekat walaupun sebenarnya kegiatan tarekat sebagai sebuah institusi lahir belasan abad sesudah adanya contoh kongkrit pendekatan kepada Allah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. kemudian diteruskan oleh Sahabat-sahabatnya, tabiin, lalu tabi’it taabiin dan seterusnya sampai kepada Auliyaullah, dan sampai sekarang ini. Garis yang menyambung sejak nabi hingga sampai Syaikh tarekat yang hidup saat ini yang lazimnya dikenal dengan Silsilah tarekat.

Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama islam, yaitu ketika nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali bertakhannus atau berkhalwat di gua Hira. Disamping itu untuk mengasingkan diri dari masyarakat Mekkah yang sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan.[4] Takhannus dan khlalwat Nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks. Proses khalwat yang dilakukan nabi tersebut dikenal dengan tarekat. Kemudian diajarkan kepada sayyidina Ali RA. dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai akhirnya sampai kepada Syaikh Abd Qadir Djailani, yang dikelal sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah.[5]

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali mengatakan bahwa : Tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/ maqamat. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, Pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brother hood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: system kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub.

  1. Periodisasi sejarah perkembangan tarekat di Indonesia

Kekurangan informasi yang bersumber dari fakta peninggalan agama Islam. Para kiai dan ulama kurang dan bahkan dapat dikatakan tidak memiliki pengertian perlunya penulisan sejarah.[6] Tidaklah mengherankan bila hal ini menjadi salah satu sebab sulitnya menemukan fakta tentang masa lampau Islam di Indonesia. Islam di Indonesia tidak sepenuhnya seperti yang digariskan Al-Qur’an dan Sunnah saja, pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa kitab-kitab Fiqih itu dijadikan referensi dalam memahami ajaran Islam di perbagai pesantren, bahkan dijadikan rujukan oleh para hakim dalam memutuskan perkara di pengadilan pengadilan agama.[7] Islam di Asia Tenggara mengalami tiga tahap : Pertama, Islam disebarkan oleh para pedagang yang berasal dari Arab, India, dan Persia disekitar pelabuhan (Terbatas). Kedua : datang dan berkuasanya Belanda di Indonesia, Inggris di semenanjung Malaya, dan Spanyol di Fhilipina, sampai abad XIX M; Ketiga : Tahap liberalisasi kebijakan pemerintah Kolonial, terutama Belanda di Indonesia.[8] Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra, yang memungkinkan terjadinya perubahan sejarah yang sangat cepat. Keterbukaan menjadikan pengaruh luar tidak dapat dihindari. Pengaruh yang diserap dan kemudian disesuaikan dengan budaya yang dimilikinyam, maka  lahirlah dalam bentuk baru yang khas Indonesia. Misalnya :  Lahirnya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, dua tarekat yang disatukan oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasy dari berbagai pengaruh budaya yang mencoba memasuki relung hati bangsa Indonesia, kiranya Islam sebagai agama wahyu berhasil memberikan bentukan jati diri yang mendasar. Islam berhasil tetap eksis di tengah keberadaan dan dapat dijadikan symbol kesatuan. Berbagai agama lainnya hanya mendapatkan tempat disebagian kecil rakyat Indonesia. Keberadaan Islam di hati rakyat Indonesia dihantarkan dengan penuh kelembutan oleh para sufi melalui kelembagaan tarekatnya, yang diterima oleh rakyat sebagai ajaran baru yang sejalan dengan tuntutan nuraninya.[9]

  1. Macam-macam Tarekat

Setidaknya ada ratusan tarekat yang telah berkembang di Dunia. Tentu untuk menjelaskan kesemua tarekat tersebut tidak cukup memuat di lembaran makalah yang hanya beberapa lembar ini. Untuk itu penulis hanya mengangkat beberapa tarekat saja yang paling tidak bisa memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada kita tentang Tarekat tersebut termasuk ajaran-ajarannya.

(1)   Tarekat Qadiriyah.

Qadiriiyah adalah nama tarekat yang diambil dari nama pendirinya yaitu Abdul al-Qadir Jailani yang terkenal dengan sebutan Syeikh Abd al-Qadir Jila al-Gawast al-Auliya. Tarekat ini menempati posisi yang amat penting dalam sejarah spritualitas Islam, karena tidak saja sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya berbagai cabang tarekat di dunia. Kedati struktur organisasinya baru muncul beberapa dekade setelah kematiannya.

(2)   Tarekat Syaziiliyah

Pendirinya yaitu Abu al-Hasan al-Syadzili. Nama legkapnya adalah Ali ibn Abdullah bin Abd Jabbar Abu al Hasan al-syadziili.[10] Beliau dilahirkan di desa Ghumarra. Terekat ini berkembang pesat antara lain di Tunisia, Mesir, Sudan, suriah dan semenanjung Arabiyah, masuk Indonesia khususnya di Wilayah Jawa tengah dan Jawa Timur.[11] Adapun pemikiran pemikiran terkat al-Syaziliyah antara lain : Pertama, Tidak menganjurkan kepada muridnya untuk meninggalkan profesi dunia. Pandangannya mengenai pakaian, makanan dan kendaraan, akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT. Meninggalkannya yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur, dan berlebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman.[12] Kedua, Tidak mengabaikan dalam menjalankan syariat Islam. Ketiga, Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.. Keempat, Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk menjadi Miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak tergantung pada harta yang dimilikinya. Seorang boleh saja mencari harta, namun jangan menjadi hamba dunia. Kelima, Berusaha merespon apa yang sedang mengancam kehidupan umat , berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami oleh banyak orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi. Menurut ajaran tarekat Syaziliyah mudah dalam perkara ilmu dan akal. Ajaran serta latihan–latihan penyucian dirinya tidak rumit dan tidak berbelit-belit. Yang dituntut dari para pengikutnya adalah meninggalkan maksiat, harus memelihara segala yang diwajibkan oleh Allah SWT dan mengerjakan ibadah-ibadah yang disunnahkan sebatas kemampuan tanpa paksaan. Bila telah mencapai tingkat yang lebih tinggi, maka wajib melakukan zikrullah sekurang-kurangnya seribu kali dalam sehari semalam dan juga harus beristigfar sebanyak seratus kali dan membaca shalawat terhadap nabi Muhammad SAW sekurang kurangnya seratus kali sehari semalam.[13]

(3)   Tarekat Naqsyabandiyah

Pendiri tarekat ini adalah Muhammad bin Muhammad Bah al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi. Lahir di Qashrul Arifah.[14] Ia mendapat gelar Syah yang menunjukkan posisinya yang penting sebagai pemimpin spiritual. Ia belajar Ilmu Tarekat pada Amir Sayyid Kulal al-Bukhari. Dari sinilah ia pertama belajar tarekat. Pada dasarnya tarekat ini bersumber dari Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani, seorang sufi yang hidup sezaman dengan Abdul Qadir Jailani.[15] Pusat perkembangan Tarekat Tarekat Naqsyabandiyah adalah di Asia Tengah, ke Turki, India, Mekkah termasuk ke Indonesia, melalui Jemaah Haji yang pulang ke Indonesia. Dalam perkembangannya mengalami pasang surut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : Gerakan Pembaharuan dan politik. Penaklukan Makkah oleh Abd al-Aziz bin Saud berakibat besar terhambatnya perkembangan tarekat Naqsabandiyah. Karena sejak saat itu kepemimpinan di Makkah diperintah oleh kaum Wahaby yang mempunyai pandangan buruk terhadap tarekat.

Sejak itu tertutuplah kemungkinan untuk mengajarkan tarekat ini di Makkah bagi Jamaah haji khususnya dari Indonesia yang setiap dari generasi banyak dari mereka masuk tarekat.[16] Tarekat Naqsabandiyah mempunyai beberapa tata cara peribadatan, teknik spiritual dan ritual tersendiri, antara lain adalah : Pertama, Husy dar dam , Suatu latihan konsentrasi dimana seorang harus menjaga diri dari kehkilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan kehadiran Allah SWT . Kedua, Nazhar bar Qadam, “Menjaga langkah”. Seorang murid yang sedang menjalani khalwat suluk, bila berjalan harus menundukkan kepala , melihat kearah kaki. Dan apabila duduk, tidak memandang ke kiri atau ke kanan. Ketiga, Safar dar wathan.” Melakukan perjalan di tanah kelahirannya”. Maknanya melakukan perjalanan bathin dengan meninggalkan segala bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya sebagai mahluk yang mulia. Keempat, Khalwat dari anjuman, ” Sepi di tengah keramaian”. Kelima, Yad krad, ” Ingat atau menyebut”. Berzikir terus menerus mengingat Allah, baik zikir Ism al-Dzat(menyebut nama Allah)maupun zikir naïf Itsbat ( Menyebut La Ilaha Illa Allah )

(4)   Tarekat Khalwatiyah. Nama tersebut diambil dari nama seorang sufi ulama dan pejuang Makassar yaitu Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu Mahasin al-Taj al-Khalwaty al-Makassary.[17] Sekarang terdapat dua cabang terpisah dari tarekat ini yang hadir bersama kita. Keduanya dikenal dengan nama Tarekat Khalwatiyah Yusuf dan Khalwatiyah Samman.[18] Tarekat Khalwatiyah ini hanya menyebar dikalangan orang Makassar dan sedikit orang bugis. Para khalifah yang diangkat terdiri dari orang Makassar sehingga secara etnis tarekat ini dikaitkan dengan suku tersebut.[19] Beliau yang pertama kali menyebarkan tarekat ini ke Indonesia. Guru beliau Syaikh Abu al- Baraqah Ayyub al-Kahlwati al-Quraisy.[20] bergelar ” Taj al- Khalwaty” sehingga namanya menjadi Syaikh Yusuf Taj al-Khalwaty. Al-Makassary dibaiat menjadi penganut Tarekat Khalwatiyah di Damaskus  Ada indikasi bahwa tarekat yang dijarkan merupakan penggabungan dari beberapa tarekat yang pernah ia pelajari, walaupun Tarekat Khalwatiyah tetap yang paling dominan.[21] Adapun dasar ajaran Tarekat khalwatiyah adalah : Pertama, Yaqza maksudnya kesadaran akan dirinya sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah SWT. Yang maha Agung. Kedua, Taubah Mohon ampun atas segala dosa. Ketiga, Muhasabah, menghitung-hitung atao introspeksi diri. Keempat, Inabah, berhasrat kembali kepada Allah. Kelima, Tafakkur Merenung tentang kebesaran Allah. Keenam, I’tisam selalu bertindak sebagai Khalifah Allah di bumi. Ketujuh, Firar Lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna. Kedelapan, Riyadah melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya. Kesembilan, Tasyakur, selalu bersyukur kepada Allah dengan mengabdi dan memujinya. Kesepuluh, Sima’ mengkonsentrasikan seluruh anggota tubuh dan mengikuti perintah-perintah Allah terutama pendengaran.[22]

(5)   Tarekat Syattariyah. Pendirinya tarekat Syaikh Abd Allah al-Syathary. Jika ditelusuri lebih awal lagi tarekat ini sesunggguhnya memiliki akar keterkaitan dengan tradisi Transoxiana, karena silsilahnya terhubungkan kepada Abu Yazid al-Isyqi, yang terhubungkan lagi kepada Abu yazid al- Bustami dan Imam Ja’far Shadiq. Tidak mengherankan kemudian jika tarekat ini dikenal dengan nama Tarekat Isyqiyyah di Iran, atau Tarekat Bistamiyah di Turki Utsmani. Sekitar abad ke lima cukup popular di Wilayah Asia Tengah, sebelum akhirnya memudar dan pengaruhnya digantikan oleh Tarekat Naqsabandiyah.[23] Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir dalam ajarannya. Para pengikut tarekat ini mencapai tujuan-tujuan mistik melalui kehidupan asketisme atau zuhud. Untuk menjalaninya seseorang terlebih dahulu harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar (orang yang terpilih) dan Abrar (orang yang terbaik). Ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tarekat Syattariyah ini, Sebagaimana yang di kutip dalam Ensiklopedi Islam[24] yaitu : Tobat, Zuhud, Tawakkal, Qanaah, Uzlah, Muraqabah, Sabar, Ridha, Dzikir dan Musyaahadah (menyaksikan Keindahan, kebesaran dan kemuliaan AllahSWT Dzikir dalam Tarekat Syattariyah terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu : Kesatu, Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, Kedua, menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan Keindahan-Nya, Ketiga, menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut.

(6)   Tarekat Sammaniyah.

Didirikan oleh Muhammad bin Abdul Karim al-Madani al-Syafi’i al-samman, lahir di Madinah dari keluarga Quraisy. Di kalangan muridnya ia lebih di kenal dengan nama al-Sammany atau Muhammad Samman. Beliau banyak menghabiskan hidupnya di Madinah dan tinggal di rumah bersejarah milik Abu Bakar As-siddiq.[25] Guru – guru beliau Muhammad Hayyat seorang muhaddits di Haramain sebagai penganut tarekat Naqsyabandiyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang penentang bid’ah dan praktik-praktik syirik serta pendiri Wahabiyah.[26], Muhammad Sulaiman Al-Qurdi, Abu Thahir Al-Qur ani, Abdul Allah Al-Basri, dan Mustafa bin Kamal Al-Din Al-Bakri. Mustafa bin kamal Al-Din al-Bakri (Mustafa Al-Bakri) adalah guru bidang tasauf dan tauhid dan merupakan Syaikh Tarekat Khalwatiyah yang menetap di Madinah.[27] Samman membuka cabang tarekat Al-Muhammadiyah.[28] Samman belajar tarekat Khalwatiyah, Naqshabandiyah, Qadiriyah, Syadziliyah. Dengan masuk menjadi murid tarekat Qadiriyah ia dikenal dengan nama Muhammad Bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Samman dalam perjalanan belajarnya itu ternyata tarekat Naqsabandiyah juga banyak mempengaruhinya, sementara itu tarekat Syadziliyah juga dipelajari oleh Samman sebagai Tarekat yang mewakili tradisi tasauf Maghribi.[29] Dari beberapa ajaran tarekat yang dipelajarinya, Samman akhirnya meracik tarekat tersebut, termasuk memadukan tekhnik-tekhnik zikir, bacaan bacaan, dan ajaran mistis lainnya, sehingga menjadi satu nama tarekat yaitu tarekat Sammaniyah.[30] Tarekat Sammaniyah ini juga berkembang di Nusantara, menurut keterangan dari Snouck Haugronje selama tinggal di Aceh, ia menyaksikan tarekat ini telah dipakai oleh masyarakat setempat.[31]. selain itu Tarekat ini juga banyak berkembang di daerah lain terutama di Sulawesi selatan. Dan menurut keterangan Sri Muliyati bahwa dapat dipastikan bahwa di daerah Sulawesi Selatanlah Tarekat Sammaniyah yang terbanyak pengikutnya hingga kini.[32]

Ajaran-ajaran pokok yang terdapat Tarekat ini adalah :

  1. Tawassul, Memohon berkah kepada pihak-pihak tertentu yang dijaadikan wasilah(perantara) agar maksud bisa tercapai. Obyek tawasul tarekat ini adalah Nabi Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, asma-asma Allah, para Auliya, para ulama Fiqih, para ahli Tarekat, para ahli Makrifat, kedua orang tua
  2. Wahdat al-Wujud, merupakan tujuan akhir yang mau di capai oleh para sufi dalam mujahadahnya.Wahdatul wujud merupakan tahapan dimana ia menyatu dengan hakikat alam yaitu Hakikat Muhammad atau nur Muhammad
  3. Nur Muhammad . Nur Muhammad merupakan salah satu rahasia Allah yang kemudian diberinya maqam. Nur Muhammad adalah pangkal terbentuknya alam semesta dan dari wujudnya terbentuk segala makhluk
  4. Insan Kamil, dari segi syariat Wujud Insan kamil adalah Muhammad dan sedang dari segi hakekat adalah Nur Muhammad atau hakekat Muhammad, Orang Islam yang berminat menuju Tuhan sampai bertemu sampai bertemu denganya harus melewati koridor ini yaitu mengikuti jejak langkah Muhammad.[33]

(7)   Tarekat Tijaniyah

Didirkan oleh syaikh Ahmad bin Muhammad al-Tijani, lahir di ‘Ain Madi, Aljazair Selatan, dan meninggal di Fez, Maroko. Syaikh Ahmad Tijani diyakini sebagai wali agung yang memiliki derajat tertinggi, dan memiliki banyak keramat,[34] menurut pengakuannya, Ahmad Tijani memiliki Nasab sampai kepada Nabi Muhammad . Silsilah dan garis nasabnya adalah Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Salim bin al-Idl bin salim bin Ahmad bin Ishaq bin Zain al Abidin bin Ahmad bin Abi Thalib, dari garis sitti Fatimah al-Zahra binti Muhammad Rasulullah SAW. Ahmad Tijani lahir dan di besarkan dalam lingkungan tradisi keluarga yang taat beragama. Beliau  memperdalam ilmu kepada para wali besar di berbagai Negara seperti Tunis, Mesir, Makkah, Medinah, Maroko. Kunjungan itu untuk mecari ilmu-ilmu kewalian secara lebih luas, sehingga ia berhasil mencapai derajat kewalian yang sangat tinggi.[35] Selanjutnya tarekat ini berkembang di Negara Afrika seperti Sinegal, Mauritania, Guinea, Nigeria, dan Gambia, bahkan sampai ke luar Afrika termasuk Saudi Arabia dan Indonesia.

Tarekat Tijaniah masuk ke Indonesia tidak diketahui secara pasti, tetapi ada fenomena yang menunjukkan gerakan awal Tarekat Tijaniyah yaitu : Kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib dan adanya pengajaran Tarekat Tijaniyah di Pesantren Buntet Cirebon. Kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib tidak diketahui secara pasti tahunnya. Menurut penjelasan GF. Pijper dalam buku Fragmenta Islamica: Beberapa tentang Studi tentang Islam di Indonesia abad 20 sebagaimana yang di kutip oleh Sri Muliyati bahwa Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib datang pertama kali ke Indonesia, saat menyebarkan Tarekat Tijaniyah ini di Tasikmalaya.[36]

Berdarkan kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib ke pulau Jawa, maka Tarekat Tijaniyah ini diperkirakan datang ke Indonesia pada awal abad ke 20 M. namun menurut Pijper, sebelum tahun 1928 Tarekat Tijaniyah belum mempunyai pengikut di pulau jawa. Pijper menjelaskan bawha Cirebon merupakan tempat pertama diketahui adanya gerakan tarekat Tijaniyah. Pada bulan Maret 1928 pemerintah Kolonial mendapat laporan bahwa ada gerakan keagamaan yang dibawa oleh guru agama ( Kiyai) yag membawa ajaran Tarekat baru yaitu Tijaniyah.

Dari Cirebon ini kemudian menyebar secara luas ke daerah-daerah di pulau Jawa melalui murid-murid pesantren Buntet ini. Perkembanga tarekat ini pada akhirnya bukan hanya dari pesantren Buntet di Cirebon tetapi juga dari luar Cirebon. Seperti Tasikmalaya, Brebes dan Ciamis. Selanjutnya Mengenai ajaran ajaran Tarekat ini, pada dasarnya hampir
sama dengan tarekat-tarekat yang telah berkembang sebelumnya pendekatan kepada Allah melalui Dzikir. Ajaran Tarekat ini cukup sederhana , yaitu perlu adanya perantara ( wasilah) antar manusia dan Tuhan . Perantara itu adalah
dirinya sendiri dan para pengganti/wakil/naibnya. Pengikut-pengikutnya dilarang keras mengikuti guru-guru lain yang manapun , bahkan ia dilarang pula untuk memohon kepada wali dimanapun selain diriya.[37] Secara umum amalan zikir (wirid) dalam Tarekat Tijaniyah terdiri dari tiga unsur pokok yaitu, Istigfar, Shalawat, dan Hailalah. Inti ajaran zikir dalam Tarekat Tijaniyah adalah sebagai upaya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat lupa terhadap Allah dan mengisinya secara terus menerus dengan menghadirkan jiwa kepada Allah SWT melalui zikir terhadap zat, sifat-sifat, hukum-hukum dan perbuatan Allah. Zikir tersebut mencakup dua bentuk,
yaitu zikir bil al-Lisan dan zikir bi al-Qalb.[38] Adapun bentuk amalan wirid Tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis yaitu, Wirid Wajibah dan wirid Ikhtiyaariyah, Wirid Wajibah yakni wirid yang wajib diamalkan oleh setiap murid Tijaniyah, tidak boleh tidak dan menjadi ukuran sah atau tidaknya
menjadi murid Tijaniyah. Wirid Ikhtiyariyah yakni Wirid yang tidak mempunyai ketentuan kewajiban untuk mengamalkannya, dan tidak menjadi ukuran syarat sah atau tidaknya menjadi murid Tijaniyah. Wirid Wajibah ini
terbagi lagi menjadi tiga yaitu (1)Wirid Lazimah, (2)Wirid Wadzifah, (3)Wirid hailalah.

(8)   Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah,  Tarekat ini adalah merupakan tarekat gabungan dari tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang terdapat di Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang berbeda yang diamalkan bersama-sama. Tarekat ini lebih merupakan sebuah tarekat yang baru dan berdiri yang di dalamnya unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan juga Naqsyabandiyah telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Tarekat ini didirikan oleh OrangIndonesia Asli yaitu Ahmad Khatib Ibn al-Ghaffar Sambas, yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad kesembilan belas.[39] Bila dilihat dari perkembangannya Tarekat ini bisa juga disebut “Tarekat Sambasiyah” Tapi Nampaknya Syaikh al-Khatib tidak menamakan tarekatnya dengan namanya sendiri. berbeda dengan guru-gurunya yang lain yang memberikan nama tarekatnya sesuai dengan nama pengembangnya.[40] Sebagaimana kebiasaan ulama-ulama sebelumnya untuk memperdalam ilmu agama, kiranya mereka berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu yang mereka miliki. Demikian pula halnya dengan Ahmad Khatib, ia berangkat ke Makkah untuk belajar Ilmu-ilmu Islam termasuk tasawuf dan mencapai posisi yang sangat di hargai diantara teman-temannya dan kemudian menjadi seorang tokoh yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Diantara gurunya adalah Syaikh Daud bin Abd Allah bin Idris al Fatani, Syaikh Muhammad Shalih Rays, selain itu ia juga banyak mengikuti dan menghadiri kuliah-kuliah yang diberikan oleh Syaikh Bishry al-Jabaty, Sayyid ahmad al-Marzuki, Sayyid abd Allah ibn Muhammad al- Mirghany.[41]

Sebagaimana di singgung sebelumnya bahwa tarekat ini mengambil dua nama tarekat yang telah berkembang sebelumnya yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Tarekat Qadariyah sendiri dibangun oleh Abd Qadir Jilai
yang mengacu pada tradisi Mazhab Iraqy yang dikembangkan oleh al-Junaid, sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah dibangun oleh Muhammad bin Muhammad Bah al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi yang didasarkan kepada tradisi al-Khurasany yang dipelopori oleh al-Bisthami. Di samping itu
keduanya juga mempunyai cara-cara yang berbeda terutama dalam menerapkan cara dan teknik berzikir. Qadiriyah lebih mengutamakan pada penggunaan cara-cara zikir keras dan jelas ( dzikr Jahr ), dalam menyebutkan Nafy dan Itsbath, yakni Kalimat La Ilaaha Illa Allah. Sementara Naqsyabandiyah lebih suka memilih dzikir dengan cara yang lembut dan samar ( Dzikr Khafy), pada pelafalan Ism al-Dzat,Yakni Allah-Allah-Allah.[42] Tarekat ini mengajarkan tiga syarat yang harus dipenuhi orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam dalam mengingat , merasa selalu diawasi oleh Allah di dalam hatinya dan pengabdian kepada Syaikh.[43].
Aturan dzikir yang telah diformulasikan oleh Syaikh Ahmad Khatib pada Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah dalam bentuk Nafyi wa Itsbat atau dengan Ism al-Dza, merupaka satu bentuk bimbingan praktis yang didorong dan didasari ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga Thariqah, jalan spritualnya diformulasikan sedemikian rupa sehingga berzikir (mengingat Allah) menjadi
lebih efektif, mudah dirasakan dan diresapkan dalam hati orang yang melakukannya, baik dalam bentuk dzikir Jahr maupun dalam bentuk Sirr. Secara rinci Syaikh Ahmad Khatib merumuskan cara-cara meresapi zikir kepada Allah agar sampai pada tingkat hakikat atau kesempurnaan, yaitu
Pertama, Salik hendaklah berkonsentrasi dan membersihkan hatinya dari segala cela sehingga dalam hati dan fikirannya tidak ada sesuatu pun selain Zat Allah, Kemudian meminta limpahan karunia dan kasih sayangnya serta pengenalan yang sempurna melalui perantaraan Mursyid (Syaikh). Kadua
ketika mengucapkan lafal-lafal dzikir terutama Nafyi wa Itsbat La Ilaaha Illa Allah, hendaknya salik menarik gerakan melalui suatu trayek dibadannya, dari pusat perut sampai ke otak kepalanya. Kemudian ditarik kearah bahu kanan dan dari sana dipukulkan dengan keras ke jantung. Disini kepala juga ikut bergerak sesuai dengan trayek zikir. Dari bawah ke atas ditarik kata” La ” dengan ukuran tujuh mad, kemudian kata ilaha ditarik ke bahu kanan dengan ukuran yang sama dan akhirnya kata ” illallah ” dipukulkan ke jantung dengan ukuran yang lebih lama sekitar tiga mad. Dan yang ketiga  dengan memusatkan zikir pada titik-titik halus (Lathaif) dalam anggota badan. Titik-titik halus semacam Lathifah al-Qalb terletak di bawah susu kiri berukuran dua jari. Lathifah ar-Ruh terletak di bawah susu kanan berukuran dua jari. Lathifah as-Sirr terletak bertepatan dengan susu kiri berukuran dua jari. Lathifah al-Khafy letaknya bertepatan dengan susu kanan berukuran dua jari. Lathifah al-akhfa letaknya di tengah dada dan Lathifah an-Nafs letaknya dalam dahi dan seluruh kepala. Seadangkan unsur unsur yang empat (Anashir al-Arbaah) adalah seluruh anggota badan harus merasakan zikir dan merasakan hakikatnya. Maka di sinilah seluruh anggota badan dituntut untuk menyempurnakan dan melengkapi dalam membantu gerak zikir Lathaif.tadi.[44]
C. Penutup dan Kesimpulan

  1. Berdasarkan Uraian sebelumnya dapat difahami bahwa Tarekat
    sebanarnya telah ada Sejak munculnya Islam yakni tatkala Rasulullah
    SAW melakukan Takhannus atau berkhalwat di Gua Hira. Apa yang
    dilakukan Rasullah ini selain untuk mencari ketenangan hati dan
    kebersihan jiwa juga yang terpenting adalah mendekatkan diri kepada
    Allah SWT dengan khusyu. Sebagaimana pula halnya para penganut
    Tarekat pada Umumnya yang berusaha memaknai hidup ini dengan
    berusaha semaksimal mungkin mendekatkan diri kepada Allah SWT
    melalui Tarekat.
  2. Banyaknya Tarekat-tarekat yang tumbuh dan berkembang di Dunia
    Islam (Dinasti-dinasti Islam di Persia atau Jazirah arab dan sekitarnya) berdampak pula dengan menyebarkan Tarekat-tarekat ini di Nusantara. Diantara Faktor yang menyebabkan cepatnya tarekat ini berkembang di Nusantara adalah karena jalur perdagangan melalui laut yang sudah lancer yang bisa menghubungkan satu daerah dengan daerah lain di Nusantara bahkan di Dunia, Faktor lainnya adalah adanya kesadaran Ulama-ulama Indonesia untuk mendalami ilmu agama khususnya di luar Nusantara seperti di Makkah.
  3. Tarekat tidak bisa dibatasi dari aspek pemaknaan saja bersadarkan
    pemahaman yang telah berkembang sebelumnya yakni bahwa Tarekat
    merupakan jalan atau metode yang ditempuh untuk mendekatkan diri
    sedekat mungkin dengan Allah SWT. Kenyataannya bahwa Tarekat itu memiliki makna lain yang bisa lebih spesifik misalnya Tarekat di maknai sebagai faham Mistik yang dapat mendatangkan kekuatan gaib dan semacamnya.

Daftar Pustaka
Abu Hamid, Syeikh Yusuf Tajul Khalwat; Suatu Kajian Antropologi
Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Madhal Ila al-Tasawuf al-Islamy Ali, Daud M, Hukum Islam Pengantar: Hukum dan tata Hukum Islam diIndonesia Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995

Azra Azyumardi, Islam di Asia Tenggara : Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi Azra(Peny), Perpektif Islam diAsia Tenggara, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1989

————- Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung:Mizan, 1998

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam,jilid 5,Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, Cet IV, 1997

http://www.Sufiesnews.com-Tarekat

Laili Mansur, H.M, Ajaran dan Teladan para sufi, Jakarta: Srigunting,
1996
Mubarok Jaih, Sejarah Peradaban Islam”, Bandung:Pustaka Bani
Quraisy, Cet II, 1995

Mansur Ahmad Suryanegara,Menemukan Sejarah Rencana Pergerakan Islam di Indonesia,Mizan Cet IV, 1998

Pijper, GF, Fragmenta Islamica: Beberapa tentang Studi tentang Islam di Indonesia abad 20, terjemahan oleh Tudjiman,Jakarata: UI Press, 1987
Snouck Hurgronje,C, Aceh:Rakyat dan Adat Istiadatnya (1), Jakarta
INIS, 1997

Sri Mulyati (et.al), Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat
Muktabarah di Indonesia,Jakarta: Kencana,Cet II, 2005

Thohir Ajid, Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan
Politik Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Pulau
Jawa,Bandung, Pustaka Hidayah, Cet I, 2002


[2] Ensiklopedi Islam, Cetakan keempat, Jild 5, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta  :  PT Ichtiar baru van hoeve, 1997), 66

[3] Ibid, hal 66

[6] Ahmad Mansur Suryanegara,Menemukan Sejarah Rencana Pergerakan Islam di Indonesia,Mizan Cet IV, 1998 hlm 73

[7] Ajid Thohir Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Jakarta:Rajawali Press,
Cet I 2004hal 292

[8] Azyumardi Azra, Islam di Asia Tenggara : Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi
Azra(Peny), Perpektif Islam diAsia Tenggara, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1989.hlm XIV , Lihat Juga Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam”, Bandung:Pustakla Bani Quraisy, Cet II,1995, hlm 222

[9] Ahmad Mansyur Suryanegara Sejarah,  hlm 157

[10] Ibid hlm 57

[11] Ibid hlm 65

[12] H.M Laili Mansur, Ajaran dan Teladan para sufi, (Jakarta: Srigunting, 1996) hlm 204

[13] Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam hlm 3

[14] H.A Fuad Said, Hakekat Tarekat Naqsyabandiyah, (Jakarta : Al-Husna Zikra, 1996)
hlm 23.

[15] Dewan Redaksi Ensikloped Islam hlm 8

[16] Sri Muliaty ,Mengenal hlm 95

[17] Azyumard Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII
dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, (Bandung:Mizan, 1998)hlm 212

[18] Ibid..hlm 117

[19] Sri Muliaty ,Mengenal. 127

[20] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning…..hlm 286

[21] Ibid

[22] Abu Hamid, Syeikh Yusuf Tajul Khalwat; Suatu Kajian Antropologi Agama, (Ujung
Pandang, Disertasi Ph.D Universitas Hasanuddin, 1990), hlm 181

[23] Sri Muliaty ,Mengenal hlm 154

[24] Dewan Redaksi, Ensiklopedi Isalam jilid-5, hlm. 2

[25] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama hlm. 159

[26] Ibid

[27] Sri Muliaty ,Mengenal … hlm. 182

[28] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…..hlm.160

[29] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning…hlm.57

[30] Sri Muliaty ,Mengenal , hlm. 183-184

[31] C.Snouck Hurgronje, Aceh : Rakyat dan Adat Istiadatnya , (Jakarta : INIS, 1997).
hlm.182-183

[32] Sri Muliaty ,Mengenal , hlm. 214

[33] Ibid , hlm207-210

[34] Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam Jilid 5, hlm 102

[35] Sri Muliaty ,Mengenal, hlm 218

[36] GF. Pijper dalam buku Fragmenta Islamica: Beberapa tentang Studi tentang Islam di
Indonesia abad 20, terjemahan oleh Tudjiman,(Jakarata: UI Press, 1987). hlm 82

[37] Dewan Redaksi, Ensiklopedi Islam Jilid 5, hlm 102

[38] Sri Muliaty ,Mengenal, hlm 218

[39] Martin Van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan Cet
IV,1996), hlm 89

[40] Ajid Thohir, Gerakan Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik
Antikolonialisme Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Pulau Jawa,(Bandung, Pustaka Hidayah,
Cet I, 2002), hlm 49

[41] Sri Muliaty ,Mengenal, hlm 255

[42] Ajid Thohir, Gerakan Politik, hlm 50

[43] Sri Muliaty ,Mengenal, hlm. Hlm 258

[44] Ajid Thohir, Gerakan Politik, hlm 75

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar